1. Elemen
2. Capaian Pembelajaran
3. Tujuan Pembelajaran
4. Alur Tujuan Pembelajaran
5. Topik Pembelajaran
6. Kompetensi Awal
7. Pemahaman Bermakna
8. Pertanyaan Pemantik
9. Literasi & Proses
10. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME
11. Kewargaan
12. Penalaran Kritis
13. Kreatif
14. Kolaborasi
15. Kemandirian
16. Kesehatan
17. Komunikasi
18. Rasa ingin tahu
19. Keberanian
20. Ketangguhan
21. Etika
22. meta kognisi, meta emosi
23.Target Peserta Didik
24. Praktik Pedagogis
25. Pemanfaatan Digital
26. Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning)
27. Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning)
28. Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning)
29. Lingkungan Pembelajaran
30. Kemitraan Pembelajaran
31. Kurikulum Berbasis Cinta (pilih yang berhubungan , Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan
, Cinta Diri dan Sesama Manusia, Cinta Tanah Air.) pilih salah satu lengkap dengan deskripsi.
32. Pendekatan (Reflective Learning )
33. Strategi ( Reflective Learning )
34. Pendekatan (multikultural)
35. Stategi (multikultural)
36. pendekatan ( Partisipatif dan Kolaboratif )
37. strategi ( Partisipatif dan Kolaboratif )
38. pendekatan ( Humanistik dan Pendidikan Karakter )
39. strategi ( Humanistik dan Pendidikan Karakter )
40. pendekatan ( integratif )
41. strategi ( integratif )
42. pendekatan ( keteladanan )
43. strategi ( keteladanan )
44. Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP)
44. intisab ( Allah Ghayatuna, Al-Ikhlash Mabda'una, Al-Ishlah Sabiluna, Al-Mahabbah Syi'aruna ) pilih salah satu yang berhubungan dan berikan deskripsi.
45. ishlahutsamaniyyah ( Perbaikan Aqidah (إصلاح العقيدة)Perbaikan Ibadah (إصلاح العبادة)Perbaikan Pendidikan/Tarbiyah (إصلاح التربية)Perbaikan Rumah Tangga/Keluarga (إصلاح العائلة)Perbaikan Adat Istiadat/Budaya (إصلاح العادة)Perbaikan Umat (إصلاح الأمة)Perbaikan Ekonomi (إصلاح الاقتصاد)Perbaikan Masyarakat/Sosial (إصلاح المجتمع ) pilih salah satu yang berhubungan dan berikan deskripsi
46.dimensi ketahanan keluarga : a. Dimensi Ketahanan Spiritual (Tatanan Berkeluarga dalam Islam, Pribadi Tangguh Calon Pengantin, Ketaatan Beragama), b. Dimensi Legalitas Dan Keutuhan Keluarga ( Undang Undang Perkawinan, Nikah Sirri dan Pernikahan yang dilarang Islam, Kelengkapan Dokumen Kependudukan, Keutuhan Keluarga ), c. Dimensi Ketahanan Fisik ( Asupan gizi pangan halal dan thoyyib, Kesehatan Alat Reproduksi, Kebersihan dan kesucian diri, rumah dan lingkungan serta sehat dan aman, Pola hidup sehat meneladani Rasulullah saw, Bugar Ala PUI ), d. Dimensi Ketahanan Ekonomi ( Kemandirian Ekonomi, Manajemen Keuangan ), e. Dimensi Ketahanan Sosial Psikologis ( Membangun pondasi kuat rumah tangga secara sosial psikologis, Pendidikan Jinsiyyah, Kepatuhan Terhadap Hukum ), f. Dimensi Ketahanan Sosial Budaya ( Penyatuan budaya dan lingkungan sosial yang berbeda, Kepedulian Sosial, Keeratan Sosial, Pemanfaatan Digital ) . pilih salah satu dari a sampai f lengkap dengan keterangan yang ada di dalam kurung.
ini daftar isi dan materi. BAB 1..........................................................18
MENGENAL MASYARAKAT ARAB SEBELUM
ISLAM.........................................................18
1.1 Letak dan Keadaan Alam Jazirah
Arab.................................................... 20
1.4 Sistem Kepemimpinan.................. 34
1.5 Kepercayaan Masyarakat Arab......38
1.6 Budaya dan Tradisi Jahiliyah......... 43
1.7 Hikmah Mempelajari Masa Jahiliyah
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 11 of 214
50
RANGKUMAN BAB 1.................................. 53
KEGIATAN BAB 1.........................................55
A. Mengamati..................................... 55
B. Menanya dan Memprediksi............56
C. Mengumpulkan Informasi.............. 57 . BAB 1
MENGENAL
MASYARAKAT ARAB
SEBELUM ISLAM
Setelah mempelajari bab ini, kalian
diharapkan mampu menganalisis
kebudayaan masyarakat Arab
sebelum Islam. Kalian juga akan
dilatih untuk mengamati peninggalan
sejarah, membuat pertanyaan kritis,
serta mencari informasi dari
berbagai sumber.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 19 of 214
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 20 of 214
1.1 Letak dan Keadaan Alam
Jazirah Arab
Jazirah Arab adalah sebuah
semenanjung besar di kawasan Asia
Barat Daya. Wilayah ini berbentuk
seperti sepatu bot dengan ujung
menghadap ke selatan. Sebelah
barat dibatasi oleh Laut Merah.
Sebelah timur dibatasi oleh Teluk
Persia dan Teluk Oman. Sebelah
selatan dibatasi oleh Laut Arab.
Sebelah utara berbatasan dengan
Gurun Suriah dan Irak.
Keadaan alam Jazirah Arab sangat
keras. Sebagian besar wilayahnya
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 21 of 214
adalah gurun pasir yang tandus. Ada
tiga gurun utama di sini. Pertama,
Gurun Arabia yang terletak di bagian
tengah dan timur. Kedua, Rub'ul Khali
yang merupakan gurun pasir terluas
di dunia dan berada di selatan.
Ketiga, Gurun An-Nafud yang berada
di utara.
Curah hujan di Jazirah Arab sangat
sedikit, kurang dari seratus milimeter
per tahun. Tidak ada sungai
permanen di sini. Yang ada hanyalah
wadi, yaitu sungai yang hanya berair
ketika hujan turun. Suhu di siang hari
bisa mencapai lima puluh derajat
celcius, sangat panas. Namun di
malam hari suhu bisa turun drastis
hingga terasa dingin.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 22 of 214
Sumber air utama di Jazirah Arab
adalah sumur yang disebut bi'r dan
mata air yang disebut ain. Air adalah
barang yang sangat berharga.
Kepemilikan sumur sering menjadi
sumber konflik antarkabilah.
Meskipun keras, kondisi alam ini
membentuk karakter masyarakat
Arab yang tangguh. Mereka menjadi
orang-orang yang ulet, sabar, dan
pemberani. Namun di sisi lain,
mereka juga mudah tersinggung dan
keras kepala. Hidup di gurun
mengajarkan mereka untuk mandiri
dan tidak mudah bergantung pada
orang lain.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 23 of 214
Ada beberapa kota penting di Jazirah
Arab. Makkah adalah kota suci
tempat berdirinya Ka'bah. Kota ini
juga menjadi pusat perdagangan.
Madinah yang dulu bernama Yatsrib
dikenal sebagai kota pertanian,
terutama kurma. Thaif adalah kota di
pegunungan yang udaranya sejuk
dan cocok untuk pertanian
buah-buahan. Yaman adalah wilayah
paling subur di selatan, tempat
peradaban kuno seperti kerajaan
Saba' berkembang. Najd adalah
wilayah pedalaman yang didominasi
oleh suku-suku badui yang keras.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 24 of 214
1.2 Kehidupan Sosial dan
Sistem Kabilah
Masyarakat Arab sebelum Islam
terbagi ke dalam
kelompok-kelompok yang disebut
kabilah atau suku. Kabilah adalah
kesatuan sosial terpenting dalam
hidup mereka. Setiap orang Arab
akan menyebut nama kabilahnya
terlebih dahulu ketika
memperkenalkan diri, bukan nama
daerah atau negaranya.
Sistem kabilah didasarkan pada
garis keturunan atau nasab. Semua
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 25 of 214
anggota satu kabilah berasal dari
satu leluhur yang sama, biasanya
dari garis ayah atau disebut
patrilineal. Ikatan darah inilah yang
membuat mereka merasa
bersaudara dan wajib saling
melindungi.
Prinsip yang sangat kuat dalam
sistem kabilah disebut 'ashabiyah.
Artinya adalah solidaritas kesukuan
yang berlebihan. Mereka memiliki
semboyan yang keliru, yaitu belalah
saudaramu meskipun ia zalim, dan
belalah saudaramu meskipun ia
dizalimi. Semboyan ini kemudian
diperbaiki oleh Islam menjadi belalah
saudaramu yang dizalimi, dan cegah
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 26 of 214
saudaramu jika ia yang berbuat
zalim.
Sistem kabilah juga mengenal jiwar
atau perlindungan. Jika seseorang
dari luar bergabung dengan suatu
kabilah, maka ia akan mendapat
perlindungan penuh. Aturan ini
membuat orang asing atau bahkan
pembunuh yang mencari suaka bisa
merasa aman jika sudah diterima
oleh suatu kabilah.
Ada juga tradisi ts'ar atau balas
dendam. Jika seorang anggota
kabilah terbunuh oleh anggota
kabilah lain, maka keluarga korban
wajib membalas dendam. Balas
dendam ini bisa berlangsung
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 27 of 214
turun-temurun selama puluhan
tahun. Tidak jarang satu nyawa
dibalas dengan puluhan nyawa.
Setiap kabilah memiliki pemimpin
yang disebut sayyid atau syaikh.
Pemimpin ini dipilih berdasarkan
kebijaksanaan, keberanian, dan
kekayaannya. Selain pemimpin, ada
juga hakim yang disebut qadi untuk
menyelesaikan sengketa. Ada pula
khatib atau juru bicara dalam majelis
musyawarah. Yang tidak kalah
penting adalah penyair atau syair
yang bertugas membela kehormatan
kabilah dan memuji kehebatan
mereka melalui puisi.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 28 of 214
Di antara kabilah-kabilah yang
terkenal di Jazirah Arab adalah
sebagai berikut. Quraisy adalah
kabilah yang paling dihormati karena
mereka bertugas menjaga Ka'bah.
Mereka tinggal di Makkah dan
menguasai perdagangan. Aus dan
Khazraj adalah dua kabilah utama di
Madinah yang sering bersaing dan
berperang sebelum Islam datang.
Bani Hasyim adalah kabilah tempat
Rasulullah SAW berasal. Kabilah ini
termasuk dalam keluarga besar
Quraisy. Bani Umayyah adalah
saingan politik Bani Hasyim yang
kelak menjadi dinasti besar dalam
sejarah Islam. Bani Makhzum dikenal
sebagai kabilah yang banyak
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 29 of 214
melahirkan pejuang tangguh,
termasuk Abu Jahal yang menjadi
musuh berat Islam.
Sistem kabilah memiliki sisi positif
dan negatif. Sisi positifnya adalah
melindungi anggota dari bahaya luar,
melestarikan silsilah dan keturunan,
serta menumbuhkan solidaritas
sosial yang kuat. Sisi negatifnya
adalah memicu perang antarkabilah
yang berkepanjangan,
menumbuhkan fanatisme buta yang
disebut ta'ashub, dan menghambat
terbentuknya persatuan bangsa Arab
secara keseluruhan.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 30 of 214
1.3 Mata Pencaharian dan
Perdagangan
Masyarakat Arab sebelum Islam
memiliki beberapa mata
pencaharian. Sebagian besar
penduduk kota seperti di Makkah
dan Yaman bekerja sebagai
pedagang. Penduduk gurun atau
badui menggantungkan hidup pada
peternakan unta, kambing, dan
domba. Sebagian kecil lainnya
bertani di Yaman, Thaif, dan
Madinah. Ada juga yang bekerja di
bidang jasa seperti penginapan,
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 31 of 214
perlindungan kafilah dagang, dan
pemandu jalan.
Perdagangan adalah sektor yang
paling maju. Kaum Quraisy di
Makkah menguasai jalur
perdagangan strategis yang
menghubungkan beberapa
peradaban besar. Dari selatan yaitu
Yaman, mereka mendapatkan
rempah-rempah, kemenyan, kain, dan
kulit. Dari utara yaitu Syam yang
sekarang meliputi Suriah, Palestina,
dan Yordania, mereka mendapatkan
gandum, minyak zaitun, kain sutra,
serta barang-barang dari Romawi.
Dari timur yaitu Irak dan Persia,
mereka mendapatkan sutra, mutiara,
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 32 of 214
dan rempah. Dari barat yaitu
Habasyah atau Etiopia, mereka
mendapatkan emas, gading, dan
budak. Perdagangan ini berlangsung
dalam dua musim. Musim dingin
mereka berdagang ke Yaman yang
hangat. Musim panas mereka
berdagang ke Syam yang sejuk.
Kebiasaan ini disebutkan dalam
Al-Qur'an surat Quraisy ayat satu dan
dua.
Selain di Makkah, ada beberapa
pasar besar yang ramai dikunjungi.
Pasar Ukaz terletak di dekat Thaif
dan ramai pada bulan Dzul Qa'dah.
Pasar Majannah berada di antara
Makkah dan Ukaz. Pasar Dzul Majaz
berada di dekat Arafah. Di
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 33 of 214
pasar-pasar ini tidak hanya terjadi
jual beli, tetapi juga perlombaan syair
atau puisi, pertukaran berita, dan
kadang perjanjian politik.
Mata uang yang digunakan
masyarakat Arab belum buatan
mereka sendiri. Mereka
menggunakan dinar yaitu mata uang
emas dari Romawi, dirham yaitu
mata uang perak dari Persia, serta
sistem barter dengan menukar unta,
kambing, atau kain.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 34 of 214
1.4 Sistem Kepemimpinan
Jazirah Arab sebelum Islam tidak
memiliki pemerintahan yang terpusat
seperti kerajaan atau negara. Setiap
kabilah berdiri sendiri dan mengatur
urusannya masing-masing. Ini
berbeda dengan peradaban di
sekitarnya seperti Romawi, Persia,
dan Etiopia yang sudah berbentuk
kerajaan besar.
Meskipun demikian, Makkah yang
dikuasai oleh kabilah Quraisy
memiliki beberapa lembaga yang
mengatur kehidupan bersama.
Lembaga-lembaga ini dipegang oleh
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 35 of 214
kabilah-kabilah tertentu secara
turun-temurun.
Dar an-Nadwah adalah dewan
musyawarah tertinggi yang
beranggotakan para pemimpin
kabilah Quraisy. Mereka berkumpul
di sebuah bangunan di belakang
Ka'bah untuk membahas
masalah-masalah penting.
Hijabah adalah jabatan sebagai
pemegang kunci dan penjaga Ka'bah.
Jabatan ini dipegang oleh Bani Abdu
Dar, kemudian kemudian beralih ke
Bani Syaibah.
Siqayah adalah jabatan penyedia air
minum bagi jemaah haji. Pemiliknya
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 36 of 214
memiliki sumur air zamzam dan
menyediakannya untuk orang-orang
yang datang beribadah ke Ka'bah.
Jabatan ini dipegang oleh Bani
Hasyim, yaitu kakek Nabi
Muhammad SAW yang bernama
Abdul Muthalib.
Rifadah adalah jabatan penyedia
makanan bagi jemaah haji. Ini juga
dipegang oleh Bani Hasyim. Liwa'
adalah pemegang bendera perang
yang dipegang oleh Bani Umayyah.
Qiyadah adalah panglima perang
yang dipegang oleh Bani Makhzum.
Jika terjadi perselisihan yang tidak
bisa diselesaikan melalui
musyawarah, mereka biasanya
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 37 of 214
melakukan tahkim yaitu meminta
putusan dari hakim independen,
berperang, atau membentuk aliansi
baru yang disebut hilf.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 38 of 214
1.5 Kepercayaan Masyarakat
Arab
Sebagian besar masyarakat Arab
sebelum Islam menyembah berhala.
Mereka disebut kaum musyrik.
Ka'bah yang seharusnya menjadi
pusat penyembahan kepada Allah
Yang Maha Esa telah dipenuhi oleh
tiga ratus enam puluh berhala.
Jumlah ini sama dengan jumlah hari
dalam setahun menurut
penanggalan Arab.
Berhala-berhala tersebut memiliki
nama dan bentuk yang
berbeda-beda. Hubal adalah berhala
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 39 of 214
terbesar berbentuk manusia yang
terbuat dari batu akik merah. Berhala
ini menjadi sesembahan utama suku
Quraisy dan diletakkan di dalam
Ka'bah.
Latta adalah berhala berbentuk batu
putih besar yang berada di Thaif.
Berhala ini disembah oleh suku Bani
Tsaqif. Uzza adalah pohon besar
yang berada di lembah Nakhlah
antara Makkah dan Thaif. Berhala ini
disembah oleh suku Quraisy dan
Kinanah. Manat adalah batu besar di
tepi Laut Merah dekat Qudayd.
Berhala ini disembah oleh suku Aus,
Khazraj, dan Khuza'ah.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 40 of 214
Di tengah maraknya penyembahan
berhala, masih ada sekelompok kecil
orang yang tidak menyembah
berhala. Mereka mencari agama
yang benar, yaitu agama Nabi
Ibrahim yang hanif atau cenderung
kepada tauhid. Mereka disebut
sebagai orang-orang Hanif.
Tokoh Hanif yang terkenal antara lain
Waraqah bin Naufal. Ia adalah
sepupu Khadijah yang kemudian
menjadi pendeta Nasrani. Ia
mengakui kenabian Muhammad
SAW dan meninggal sebelum hijrah.
Zaid bin Amr bin Nufail adalah
paman dari Umar bin Khattab. Ia
sangat menentang penyembahan
berhala dan tidak pernah mau
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 41 of 214
memakan hewan yang disembelih
untuk berhala.
Utsman bin Huwairits pernah pergi
ke Romawi untuk mencari agama.
Ubaidillah bin Jahsy awalnya masuk
Islam, tetapi kemudian pindah ke
Nasrani ketika berada di Habasyah.
Selain penyembah berhala dan
orang-orang Hanif, di Jazirah Arab
juga hidup penganut agama Yahudi
dan Nasrani. Orang Yahudi banyak
menetap di Madinah yaitu Bani
Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani
Qurayzhah. Mereka juga tinggal di
Khaibar, Tayma, dan Fadak. Mereka
membawa kitab Taurat dan memiliki
ahli-ahli kitab.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 42 of 214
Agama Nasrani masuk ke Jazirah
Arab melalui beberapa jalur. Pertama
dari Habasyah atau Etiopia yang
beragama Nasrani. Kedua dari
Romawi Timur melalui Syam. Ketiga
dari para misionaris yang menyusuri
jalur perdagangan. Pusat-pusat
Nasrani di Jazirah Arab antara lain
Najran di Yaman selatan, Hirah di
Irak selatan, dan Ghassan di Syam
selatan.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 43 of 214
1.6 Budaya dan Tradisi
Jahiliyah
Istilah Jahiliyah sering diartikan
sebagai masa kebodohan. Namun
bukan berarti masyarakat Arab ketika
itu tidak memiliki peradaban. Mereka
justru mencapai puncak keunggulan
dalam beberapa bidang, terutama
sastra.
Sastra Arab dalam bentuk puisi atau
syair sangat maju. Syair bagi bangsa
Arab bagaikan diwan atau catatan
sejarah mereka. Mereka menghafal
silsilah, peristiwa perang, dan
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 44 of 214
kebanggaan kabilah dalam bentuk
puisi.
Ciri-ciri puisi Jahiliyah adalah
sebagai berikut. Biasanya berbentuk
qasidah atau puisi panjang yang
diawali dengan nasib, yaitu
ungkapan cinta pada bekas
kampung kekasih. Bahasa yang
digunakan sangat fasih dan penuh
imajinasi. Tema puisi antara lain
fakhr atau kebanggaan kabilah,
madi'h atau pujian, hija' atau ejekan
dan sindiran, ritsak atau ratapan atas
kematian, serta ghazal atau puisi
cinta.
Penyair-penyair terkenal pada masa
Jahiliyah antara lain Imru'ul Qais
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 45 of 214
yang dijuluki raja penyair. Antara bin
Syaddad adalah pahlawan berkulit
hitam yang gagah perkasa sekaligus
penyair handal. Zuhair bin Abi Sulma
dikenal sebagai penyair yang bijak.
Labid bin Rabi'ah masuk Islam
kemudian dan berhenti bersyair
setelah membaca Al-Qur'an.
Al-Khansa adalah penyair wanita
hebat yang terkenal dengan
ratapan-ratapannya.
Selain puisi, bangsa Arab juga
terkenal dengan kefasihan bahasa
atau balaghah. Mereka sangat
bangga dengan kemampuan
berbahasa mereka. Inilah mengapa
Al-Qur'an yang turun dalam bahasa
Arab yang sempurna menjadi
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 46 of 214
mukjizat yang tidak bisa ditandingi
oleh siapapun.
Masyarakat Arab juga memiliki kode
etik dalam berperang. Mereka tidak
membunuh wanita, anak-anak, dan
orang tua. Pertempuran dihentikan
pada bulan-bulan haram yaitu Dzul
Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan
Rajab. Tawanan perang sering
dibebaskan dengan tebusan.
Ada beberapa nilai positif yang
dijunjung tinggi. Memuliakan tamu
atau dhiyafah adalah kewajiban.
Tamu yang datang dihormati,
makanan dan unta disembelih
untuknya, serta dilindungi selama
tiga hari. Menepati janji atau wafa' bil
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 47 of 214
'ahdi sangat dijunjung. Melanggar
janji adalah aib besar. Keberanian
atau as-saja'ah sangat dihargai.
Laki-laki yang pengecut akan diusir
dari kabilah. Kedermawanan atau
al-jud juga dipuji. Orang yang
dermawan mendapat pujian,
sedangkan orang kikir dicela.
Namun ada juga keburukan budaya
yang sangat keji. Yang paling
terkenal adalah wa'd atau mengubur
hidup-hidup anak perempuan. Praktik
ini dilakukan oleh sebagian kabilah
seperti Bani Tamim. Mereka
mengubur anak perempuan mereka
hidup-hidup karena takut miskin jika
harus menafkahi, takut mendapat aib
jika anak perempuan diculik, atau
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 48 of 214
karena lebih bangga memiliki anak
laki-laki yang bisa menjadi pejuang.
Islam dengan tegas melarang praktik
ini.
Perang antarkabilah yang kronis juga
menjadi keburukan. Perang Fijar
adalah perang yang terjadi di bulan
haram, sesuatu yang sebenarnya
dilarang. Perang Dahis dan Ghabra
antara Bani Abs dan Bani Dzubyan
berlangsung sekitar empat puluh
tahun hanya karena perselisihan
hasil pacuan kuda yang curang.
Riba merajalela di Makkah. Utang
yang tidak dibayar bisa berlipat
ganda sehingga orang miskin
semakin terjerat. Perbudakan juga
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 49 of 214
marak. Budak tidak memiliki hak
sama sekali. Mereka bisa dipukuli,
disiksa, atau dijual kapan saja. Bilal
bin Rabah adalah contoh budak yang
disiksa oleh tuannya Umayyah bin
Khalaf karena masuk Islam.
Khamr atau minuman memabukkan
dan judi atau maysir menjadi hiburan
utama masyarakat. Keduanya
merusak akal dan harta.
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 50 of 214
1.7 Hikmah Mempelajari
Masa Jahiliyah
Mengapa kita perlu mempelajari
masa Jahiliyah? Ada beberapa
alasan penting.
Pertama, untuk mengetahui
seberapa besar perubahan yang
dibawa oleh Islam. Bayangkan
sebuah masyarakat yang mengubur
anak perempuan hidup-hidup,
menyembah batu, dan saling bunuh
hanya karena dendam kesukuan.
Dalam waktu dua puluh tiga tahun,
masyarakat yang sama berubah
menjadi masyarakat madani yang
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 51 of 214
menjunjung tauhid, keadilan, dan
persaudaraan. Inilah bukti kebesaran
Islam.
Kedua, untuk menghargai perjuangan
Rasulullah dan para sahabat. Mereka
berdakwah di tengah tekanan yang
sangat berat. Tanpa memahami
bagaimana keganasan musuh saat
itu, kita tidak akan memahami
betapa besarnya pengorbanan
mereka.
Ketiga, untuk mengenali bibit-bibit
kebaikan yang masih ada pada
masyarakat Jahiliyah. Kemurahan
hati, keberanian, dan kefasihan
bahasa adalah modal yang kemudian
Koleksi buku asun86|| SKI X SMT1 || nomor : 191
Page 52 of 214
dipertahankan dan disempurnakan
oleh Islam.
Keempat, untuk mencegah
kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah di
masa modern. Jahiliyah bukan hanya
tentang zaman dulu. Jahiliyah adalah
pola pikir yang menuhankan hawa
nafsu, membenarkan kekerasan, dan
menindas yang lemah. Umat Islam
harus waspada agar tidak terjebak
dalam Jahiliyah modern. buat 1 bab ini untuk 3 pertemuan. dengan pint point ini untuk tiap pertemuannya.
ini point poinnya.
1. Elemen
2. Capaian Pembelajaran
3. Tujuan Pembelajaran
4. Alur Tujuan Pembelajaran
5. Topik Pembelajaran
6. Kompetensi Awal
7. Pemahaman Bermakna
8. Pertanyaan Pemantik
9. Literasi & Proses
10. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME
11. Kewargaan
12. Penalaran Kritis
13. Kreatif
14. Kolaborasi
15. Kemandirian
16. Kesehatan
17. Komunikasi
18. Rasa ingin tahu
19. Keberanian
20. Ketangguhan
21. Etika
22. meta kognisi, meta emosi
23.Target Peserta Didik
24. Praktik Pedagogis
25. Pemanfaatan Digital
26. Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning)
27. Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning)
28. Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning)
29. Lingkungan Pembelajaran
30. Kemitraan Pembelajaran
31. Kurikulum Berbasis Cinta (pilih yang berhubungan , Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan
, Cinta Diri dan Sesama Manusia, Cinta Tanah Air.) pilih salah satu lengkap dengan deskripsi.
32. Pendekatan (Reflective Learning )
33. Strategi ( Reflective Learning )
34. Pendekatan (multikultural)
35. Stategi (multikultural)
36. pendekatan ( Partisipatif dan Kolaboratif )
37. strategi ( Partisipatif dan Kolaboratif )
38. pendekatan ( Humanistik dan Pendidikan Karakter )
39. strategi ( Humanistik dan Pendidikan Karakter )
40. pendekatan ( integratif )
41. strategi ( integratif )
42. pendekatan ( keteladanan )
43. strategi ( keteladanan )
44. Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP)
44. intisab ( Allah Ghayatuna, Al-Ikhlash Mabda'una, Al-Ishlah Sabiluna, Al-Mahabbah Syi'aruna ) pilih salah satu yang berhubungan dan berikan deskripsi.
45. ishlahutsamaniyyah ( Perbaikan Aqidah (إصلاح العقيدة)Perbaikan Ibadah (إصلاح العبادة)Perbaikan Pendidikan/Tarbiyah (إصلاح التربية)Perbaikan Rumah Tangga/Keluarga (إصلاح العائلة)Perbaikan Adat Istiadat/Budaya (إصلاح العادة)Perbaikan Umat (إصلاح الأمة)Perbaikan Ekonomi (إصلاح الاقتصاد)Perbaikan Masyarakat/Sosial (إصلاح المجتمع ) pilih salah satu yang berhubungan dan berikan deskripsi
46.dimensi ketahanan keluarga : a. Dimensi Ketahanan Spiritual (Tatanan Berkeluarga dalam Islam, Pribadi Tangguh Calon Pengantin, Ketaatan Beragama), b. Dimensi Legalitas Dan Keutuhan Keluarga ( Undang Undang Perkawinan, Nikah Sirri dan Pernikahan yang dilarang Islam, Kelengkapan Dokumen Kependudukan, Keutuhan Keluarga ), c. Dimensi Ketahanan Fisik ( Asupan gizi pangan halal dan thoyyib, Kesehatan Alat Reproduksi, Kebersihan dan kesucian diri, rumah dan lingkungan serta sehat dan aman, Pola hidup sehat meneladani Rasulullah saw, Bugar Ala PUI ), d. Dimensi Ketahanan Ekonomi ( Kemandirian Ekonomi, Manajemen Keuangan ), e. Dimensi Ketahanan Sosial Psikologis ( Membangun pondasi kuat rumah tangga secara sosial psikologis, Pendidikan Jinsiyyah, Kepatuhan Terhadap Hukum ), f. Dimensi Ketahanan Sosial Budaya ( Penyatuan budaya dan lingkungan sosial yang berbeda, Kepedulian Sosial, Keeratan Sosial, Pemanfaatan Digital ) . pilih salah satu dari a sampai f lengkap dengan keterangan yang ada di dalam kurung.
1. ELEMEN
P1: Elemen Sejarah Kebudayaan Islam dengan fokus pada pemahaman tentang kondisi geografis Jazirah Arab dan sistem sosial masyarakat Arab pra-Islam sebagai latar belakang kehidupan sebelum datangnya Islam.
P2: Elemen Sejarah Kebudayaan Islam dengan fokus pada pemahaman tentang struktur ekonomi dan sistem kepemimpinan masyarakat Arab pra-Islam yang menjadi fondasi kehidupan sosial dan politik sebelum datangnya Islam.
P3: Elemen Sejarah Kebudayaan Islam dengan fokus pada pemahaman tentang sistem kepercayaan, budaya, dan tradisi masyarakat Arab pra-Islam serta hikmah yang dapat diambil untuk kehidupan modern.
2. CAPAIAN PEMBELAJARAN
P1: Peserta didik mampu menganalisis kebudayaan masyarakat Arab sebelum Islam serta mengaitkannya dengan kondisi geografis dan sosial yang membentuk karakter bangsa Arab, sehingga dapat mengambil hikmah dan nilai-nilai positif untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
P2: Peserta didik mampu menganalisis kebudayaan masyarakat Arab sebelum Islam serta mengaitkannya dengan kondisi geografis dan sosial yang membentuk karakter bangsa Arab, sehingga dapat mengambil hikmah dan nilai-nilai positif untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
P3: Peserta didik mampu menganalisis kebudayaan masyarakat Arab sebelum Islam serta mengaitkannya dengan kondisi geografis dan sosial yang membentuk karakter bangsa Arab, sehingga dapat mengambil hikmah dan nilai-nilai positif untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. TUJUAN PEMBELAJARAN
P1: Setelah mengikuti pembelajaran pertemuan 1, peserta didik mampu:
a. Menjelaskan letak geografis Jazirah Arab dan batas-batas wilayahnya dengan tepat melalui peta konsep.
b. Mendeskripsikan kondisi alam Jazirah Arab yang meliputi iklim, gurun, dan sumber air beserta pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat.
c. Mengidentifikasi kota-kota penting di Jazirah Arab dan karakteristik masing-masing.
d. Menjelaskan sistem kabilah dalam masyarakat Arab pra-Islam beserta prinsip-prinsipnya seperti 'ashabiyah, jiwar, dan ts'ar.
e. Menganalisis dampak positif dan negatif sistem kabilah terhadap kehidupan masyarakat Arab.
f. Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
P2: Setelah mengikuti pembelajaran pertemuan 2, peserta didik mampu:
a. Menjelaskan mata pencaharian utama masyarakat Arab pra-Islam dan pembagiannya berdasarkan wilayah.
b. Mendeskripsikan jalur-jalur perdagangan yang menghubungkan Jazirah Arab dengan peradaban lain.
c. Mengidentifikasi pasar-pasar besar di Jazirah Arab beserta fungsinya.
d. Menjelaskan sistem kepemimpinan dan lembaga-lembaga yang ada di Makkah.
e. Menganalisis fungsi masing-masing lembaga kepemimpinan dalam mengatur kehidupan masyarakat.
f. Menunjukkan sikap apresiatif terhadap sistem musyawarah yang telah ada sejak masa pra-Islam.
P3: Setelah mengikuti pembelajaran pertemuan 3, peserta didik mampu:
a. Menjelaskan sistem kepercayaan masyarakat Arab pra-Islam yang meliputi penyembahan berhala, agama Yahudi, Nasrani, dan orang-orang Hanif.
b. Mengidentifikasi berhala-berhala utama yang disembah oleh masyarakat Arab beserta kabilah pemujanya.
c. Menyebutkan tokoh-tokoh Hanif dan peran mereka dalam mencari kebenaran.
d. Mendeskripsikan budaya dan tradisi Jahiliyah baik yang positif maupun negatif.
e. Menganalisis hikmah mempelajari masa Jahiliyah bagi kehidupan umat Islam masa kini.
f. Menunjukkan sikap waspada terhadap kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah di era modern.
4. ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
P1: Pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan berupa apersepsi dan motivasi untuk menggali pengetahuan awal siswa tentang Arab Saudi modern dan kehidupan masyarakat gurun. Kegiatan inti pertama adalah eksplorasi peta dan diskusi kelompok mengenai letak geografis dan kondisi alam Jazirah Arab yang mencakup pencapaian tujuan a, b, dan c. Kegiatan inti kedua berupa presentasi dan studi literatur tentang sistem kabilah untuk mencapai tujuan d dan e. Pembelajaran ditutup dengan refleksi dan evaluasi untuk mencapai tujuan f.
P2: Pembelajaran diawali dengan pendahuluan berupa apersepsi tentang kegiatan ekonomi masyarakat saat ini untuk mengaitkan dengan materi. Kegiatan inti pertama adalah eksplorasi dan diskusi tentang mata pencaharian dan perdagangan masyarakat Arab yang mencakup tujuan a, b, dan c. Kegiatan inti kedua berupa studi literatur dan analisis tentang sistem kepemimpinan dan lembaga-lembaga di Makkah untuk mencapai tujuan d dan e. Pembelajaran ditutup dengan refleksi dan evaluasi untuk mencapai tujuan f.
P3: Pembelajaran diawali dengan pendahuluan berupa apersepsi tentang kepercayaan dan budaya di masyarakat sekitar. Kegiatan inti pertama adalah eksplorasi dan diskusi tentang sistem kepercayaan masyarakat Arab yang mencakup tujuan a, b, dan c. Kegiatan inti kedua berupa studi literatur dan analisis tentang budaya dan tradisi Jahiliyah serta hikmah mempelajarinya untuk mencapai tujuan d dan e. Pembelajaran ditutup dengan refleksi dan evaluasi untuk mencapai tujuan f.
5. TOPIK PEMBELAJARAN
P1: Topik pembelajaran pertemuan 1 meliputi tiga bagian utama.
Topik pertama adalah Letak dan Keadaan Alam Jazirah Arab yang mencakup letak geografis dengan batas-batas wilayah, bentuk wilayah sebagai semenanjung seperti sepatu bot dengan ujung menghadap ke selatan, gurun-gurun utama yaitu Gurun Arabia di bagian tengah dan timur, Rub'ul Khali sebagai gurun pasir terluas di dunia di selatan, dan Gurun An-Nafud di utara, kondisi iklim dengan curah hujan kurang dari seratus milimeter per tahun dan suhu ekstrem mencapai lima puluh derajat celcius di siang hari, sumber air berupa bi'r atau sumur, ain atau mata air, dan wadi atau sungai musiman yang hanya berair saat hujan, serta karakter masyarakat akibat kondisi alam yang keras menjadi tangguh, ulet, pemberani namun juga mudah tersinggung dan keras kepala.
Topik kedua adalah Kota-kota Penting di Jazirah Arab meliputi Makkah sebagai kota suci tempat berdirinya Ka'bah dan pusat perdagangan, Madinah yang dulu bernama Yatsrib sebagai kota pertanian kurma, Thaif sebagai kota pegunungan dengan udara sejuk dan cocok untuk pertanian buah-buahan, Yaman sebagai wilayah paling subur di selatan tempat peradaban kuno seperti kerajaan Saba' berkembang, dan Najd sebagai wilayah pedalaman yang didominasi oleh suku-suku badui yang keras.
Topik ketiga adalah Kehidupan Sosial dan Sistem Kabilah yang mencakup definisi dan fungsi kabilah atau suku sebagai kesatuan sosial terpenting, dasar keturunan patrilineal atau nasab dari satu leluhur yang sama, prinsip 'ashabiyah yaitu solidaritas kesukuan yang berlebihan dengan semboyan keliru "belalah saudaramu meskipun ia zalim" yang kemudian diperbaiki Islam menjadi "belalah saudaramu yang dizalimi dan cegah saudaramu jika ia berbuat zalim", tradisi jiwar atau perlindungan bagi orang luar yang bergabung dengan kabilah, tradisi ts'ar atau balas dendam yang berlangsung turun-temurun, struktur kepemimpinan kabilah yang terdiri dari sayyid atau syaikh sebagai pemimpin, qadi sebagai hakim, khatib sebagai juru bicara dalam majelis musyawarah, dan syair sebagai penyair yang membela kehormatan kabilah, kabilah-kabilah terkenal seperti Quraisy yang paling dihormati karena menjaga Ka'bah, Aus dan Khazraj yang sering bersaing di Madinah, Bani Hasyim tempat Rasulullah SAW berasal, Bani Umayyah sebagai saingan politik Bani Hasyim, dan Bani Makhzum yang dikenal melahirkan pejuang tangguh termasuk Abu Jahal, serta dampak positif sistem kabilah berupa perlindungan anggota, pelestarian silsilah, dan solidaritas sosial yang kuat, dan dampak negatif berupa perang antarkabilah berkepanjangan, fanatisme buta atau ta'ashub, dan penghambatan persatuan bangsa Arab secara keseluruhan.
P2: Topik pembelajaran pertemuan 2 meliputi dua bagian utama.
Topik pertama adalah Mata Pencaharian dan Perdagangan Masyarakat Arab yang mencakup mata pencaharian masyarakat Arab yang terbagi menjadi penduduk kota sebagai pedagang, penduduk gurun atau badui sebagai peternak unta, kambing, dan domba, sebagian kecil bertani di Yaman, Thaif, dan Madinah, serta sebagian bekerja di bidang jasa seperti penginapan, perlindungan kafilah dagang, dan pemandu jalan. Jalur perdagangan strategis yang dikuasai Quraisy di Makkah menghubungkan beberapa peradaban besar yaitu dari selatan Yaman mendapatkan rempah-rempah, kemenyan, kain, dan kulit, dari utara Syam mendapatkan gandum, minyak zaitun, kain sutra, serta barang-barang dari Romawi, dari timur Irak dan Persia mendapatkan sutra, mutiara, dan rempah, dari barat Habasyah atau Etiopia mendapatkan emas, gading, dan budak. Perdagangan berlangsung dalam dua musim yaitu musim dingin ke Yaman yang hangat dan musim panas ke Syam yang sejuk yang disebutkan dalam Al-Qur'an surat Quraisy ayat satu dan dua. Pasar-pasar besar yang ramai dikunjungi meliputi Pasar Ukaz di dekat Thaif ramai pada bulan Dzul Qa'dah, Pasar Majannah di antara Makkah dan Ukaz, serta Pasar Dzul Majaz di dekat Arafah. Di pasar-pasar ini terjadi jual beli, perlombaan syair atau puisi, pertukaran berita, dan kadang perjanjian politik. Mata uang yang digunakan meliputi dinar dari Romawi, dirham dari Persia, serta sistem barter dengan menukar unta, kambing, atau kain.
Topik kedua adalah Sistem Kepemimpinan di Jazirah Arab yang mencakup kondisi Jazirah Arab yang tidak memiliki pemerintahan terpusat, namun Makkah yang dikuasai Quraisy memiliki lembaga-lembaga pengatur kehidupan bersama yang dipegang oleh kabilah-kabilah tertentu secara turun-temurun. Dar an-Nadwah adalah dewan musyawarah tertinggi beranggotakan para pemimpin kabilah Quraisy yang berkumpul di sebuah bangunan di belakang Ka'bah untuk membahas masalah-masalah penting. Hijabah adalah jabatan pemegang kunci dan penjaga Ka'bah yang dipegang oleh Bani Abdu Dar kemudian beralih ke Bani Syaibah. Siqayah adalah jabatan penyedia air minum bagi jemaah haji yang memiliki sumur air zamzam dan dipegang oleh Bani Hasyim, yaitu kakek Nabi Muhammad SAW bernama Abdul Muthalib. Rifadah adalah jabatan penyedia makanan bagi jemaah haji yang juga dipegang oleh Bani Hasyim. Liwa' adalah pemegang bendera perang yang dipegang oleh Bani Umayyah. Qiyadah adalah panglima perang yang dipegang oleh Bani Makhzum. Jika terjadi perselisihan yang tidak bisa diselesaikan melalui musyawarah, mereka melakukan tahkim yaitu meminta putusan dari hakim independen, berperang, atau membentuk aliansi baru yang disebut hilf.
P3: Topik pembelajaran pertemuan 3 meliputi tiga bagian utama.
Topik pertama adalah Kepercayaan Masyarakat Arab yang mencakup penyembahan berhala atau kaum musyrik yang memenuhi Ka'bah dengan tiga ratus enam puluh berhala sesuai jumlah hari dalam setahun. Berhala-berhala tersebut memiliki nama dan bentuk berbeda yaitu Hubal sebagai berhala terbesar berbentuk manusia dari batu akik merah yang menjadi sesembahan utama Quraisy dan diletakkan di dalam Ka'bah, Latta sebagai berhala berbentuk batu putih besar di Thaif yang disembah oleh Bani Tsaqif, Uzza sebagai pohon besar di lembah Nakhlah antara Makkah dan Thaif yang disembah oleh Quraisy dan Kinanah, serta Manat sebagai batu besar di tepi Laut Merah dekat Qudayd yang disembah oleh Aus, Khazraj, dan Khuza'ah. Di tengah maraknya penyembahan berhala, masih ada sekelompok kecil orang Hanif yang mencari agama benar yaitu agama Nabi Ibrahim yang hanif atau cenderung kepada tauhid. Tokoh Hanif terkenal antara lain Waraqah bin Naufal sebagai sepupu Khadijah yang menjadi pendeta Nasrani dan mengakui kenabian Muhammad SAW, Zaid bin Amr bin Nufail sebagai paman Umar bin Khattab yang sangat menentang penyembahan berhala, Utsman bin Huwairits yang pergi ke Romawi mencari agama, dan Ubaidillah bin Jahsy yang masuk Islam kemudian pindah ke Nasrani. Penganut agama Yahudi banyak menetap di Madinah yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Qurayzhah serta di Khaibar, Tayma, dan Fadak dengan membawa kitab Taurat. Agama Nasrani masuk melalui tiga jalur yaitu dari Habasyah atau Etiopia, dari Romawi Timur melalui Syam, dan dari para misionaris melalui jalur perdagangan dengan pusat-pusat Nasrani di Najran Yaman selatan, Hirah Irak selatan, dan Ghassan Syam selatan.
Topik kedua adalah Budaya dan Tradisi Jahiliyah yang mencakup kemajuan sastra dalam bentuk puisi atau syair yang menjadi diwan atau catatan sejarah mereka untuk menghafal silsilah, peristiwa perang, dan kebanggaan kabilah. Ciri-ciri puisi Jahiliyah berbentuk qasidah panjang diawali dengan nasib, bahasa fasih penuh imajinasi, dengan tema fakhr atau kebanggaan, madi'h atau pujian, hija' atau ejekan, ritsak atau ratapan, dan ghazal atau puisi cinta. Penyair terkenal antara lain Imru'ul Qais sebagai raja penyair, Antara bin Syaddad sebagai pahlawan berkulit hitam sekaligus penyair, Zuhair bin Abi Sulma sebagai penyair bijak, Labid bin Rabi'ah yang masuk Islam dan berhenti bersyair setelah membaca Al-Qur'an, serta Al-Khansa sebagai penyair wanita hebat. Kefasihan bahasa atau balaghah menjadi kebanggaan bangsa Arab sehingga Al-Qur'an yang turun dalam bahasa Arab sempurna menjadi mukjizat yang tidak bisa ditandingi. Nilai-nilai positif yang dijunjung tinggi meliputi memuliakan tamu atau dhiyafah sebagai kewajiban, menepati janji atau wafa' bil 'ahdi, keberanian atau as-saja'ah, dan kedermawanan atau al-jud. Keburukan budaya yang sangat keji meliputi wa'd atau mengubur hidup-hidup anak perempuan yang dilakukan oleh Bani Tamim karena takut miskin, takut aib, atau lebih bangga memiliki anak laki-laki, perang antarkabilah yang kronis seperti Perang Fijar di bulan haram dan Perang Dahis dan Ghabra yang berlangsung empat puluh tahun karena perselisihan pacuan kuda curang, riba yang merajalela di Makkah, perbudakan yang marak dengan budak tidak memiliki hak seperti Bilal bin Rabah yang disiksa Umayyah bin Khalaf, serta khamr atau minuman memabukkan dan judi atau maysir sebagai hiburan utama.
Topik ketiga adalah Hikmah Mempelajari Masa Jahiliyah yang mencakup empat alasan penting. Pertama, untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang dibawa Islam dari masyarakat yang mengubur anak perempuan, menyembah batu, dan saling bunuh karena dendam menjadi masyarakat madani yang menjunjung tauhid, keadilan, dan persaudaraan dalam dua puluh tiga tahun sebagai bukti kebesaran Islam. Kedua, untuk menghargai perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang berdakwah di tengah tekanan berat. Ketiga, untuk mengenali bibit-bibit kebaikan yang masih ada pada masyarakat Jahiliyah seperti kemurahan hati, keberanian, dan kefasihan bahasa yang kemudian dipertahankan dan disempurnakan oleh Islam. Keempat, untuk mencegah kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah di masa modern karena Jahiliyah bukan hanya tentang zaman dulu tetapi pola pikir yang menuhankan hawa nafsu, membenarkan kekerasan, dan menindas yang lemah sehingga umat Islam harus waspada agar tidak terjebak dalam Jahiliyah modern.
6. KOMPETENSI AWAL
P1: Kompetensi awal yang harus dimiliki peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran ini adalah pengetahuan tentang geografi dasar sehingga mampu menunjukkan letak Jazirah Arab pada peta dunia, pemahaman tentang kehidupan masyarakat pra-modern sehingga memiliki gambaran umum tentang kehidupan sebelum Islam, kemampuan membaca peta untuk mengidentifikasi batas wilayah, pengetahuan tentang konsep suku atau klan dalam masyarakat, serta pengenalan kosa kata dasar bahasa Arab seperti Jazirah, Quraisy, dan Ka'bah.
P2: Kompetensi awal yang harus dimiliki peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran ini adalah pemahaman tentang kondisi geografis Jazirah Arab dari pertemuan sebelumnya, pengetahuan dasar tentang kegiatan ekonomi seperti perdagangan dan pertanian, kemampuan membaca peta jalur perdagangan, pemahaman tentang konsep kepemimpinan dan musyawarah, serta pengenalan terhadap suku-suku Quraisy dan pembagiannya.
P3: Kompetensi awal yang harus dimiliki peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran ini adalah pemahaman tentang kondisi geografis dan sistem sosial dari pertemuan pertama, pengetahuan tentang ekonomi dan kepemimpinan dari pertemuan kedua, pengetahuan dasar tentang agama-agama yang dikenal seperti Islam, Yahudi, dan Nasrani, kemampuan membaca dan memahami teks sejarah, serta kepekaan terhadap nilai-nilai moral dan sosial.
7. PEMAHAMAN BERMAKNA
P1: Dari pembelajaran ini, peserta didik diharapkan memahami empat hal penting.
Pertama, kondisi geografis membentuk karakter masyarakat. Alam Jazirah Arab yang keras dengan gurun pasir, panas ekstrem, dan minim air melahirkan masyarakat yang tangguh, mandiri, dan ulet namun juga mudah tersinggung dan keras kepala. Ini menunjukkan bahwa lingkungan fisik sangat mempengaruhi pembentukan karakter dan budaya suatu bangsa.
Kedua, struktur sosial mempengaruhi pola pikir dan perilaku. Sistem kabilah dengan prinsip 'ashabiyah mengajarkan bahwa kesetiaan pada kelompok seringkali mengalahkan kebenaran dan keadilan. Prinsip "belalah saudaramu meskipun ia zalim" menjadi akar dari konflik berkepanjangan dan fanatisme buta. Ini adalah pelajaran penting tentang bahaya fanatisme kelompok yang harus diwaspadai.
Ketiga, perubahan besar membutuhkan pemahaman tentang titik awal. Untuk memahami betapa besarnya perubahan yang dibawa Islam, kita harus terlebih dahulu memahami kondisi masyarakat Arab sebelum Islam. Tanpa memahami keganasan dan kebobrokan masa Jahiliyah, kita tidak akan sepenuhnya menghargai keagungan risalah Islam.
Keempat, setiap peradaban memiliki sisi positif dan negatif. Meskipun masa Jahiliyah identik dengan kebodohan, masyarakat Arab memiliki nilai-nilai luhur seperti keberanian, kedermawanan, dan kefasihan bahasa. Islam tidak menghapus semua tradisi, tetapi menyempurnakan dan meluruskan yang baik serta melarang yang buruk.
P2: Dari pembelajaran ini, peserta didik diharapkan memahami tiga hal penting.
Pertama, perdagangan adalah tulang punggung ekonomi masyarakat Arab dan menjadi faktor penting yang membuat Makkah menjadi kota yang disegani. Letak Makkah yang strategis di jalur perdagangan antara Yaman dan Syam menjadikannya pusat ekonomi yang makmur dan berpengaruh. Kekayaan dari perdagangan inilah yang kelak menjadi salah satu faktor kekuatan Quraisy dalam menghadapi dakwah Islam.
Kedua, sistem kepemimpinan di Makkah telah memiliki struktur yang terorganisir meskipun tidak berbentuk kerajaan. Lembaga-lembaga seperti Dar an-Nadwah, Hijabah, Siqayah, dan Rifadah menunjukkan bahwa masyarakat Arab memiliki tata kelola dan pembagian tugas yang jelas. Ini membuktikan bahwa mereka bukanlah masyarakat primitif tanpa peradaban, melainkan memiliki sistem sosial yang kompleks.
Ketiga, nilai-nilai kepemimpinan seperti musyawarah, tanggung jawab sosial, dan pelayanan kepada masyarakat telah ada sejak masa Jahiliyah. Islam kemudian menyempurnakan nilai-nilai ini dengan landasan tauhid dan keadilan. Pemahaman ini penting untuk menghargai bahwa Islam datang tidak untuk menghancurkan semua tradisi, tetapi untuk memperbaiki dan menyempurnakan yang sudah baik.
P3: Dari pembelajaran ini, peserta didik diharapkan memahami empat hal penting.
Pertama, kepercayaan masyarakat Arab sebelum Islam sangat beragam mulai dari penyembahan berhala, Yahudi, Nasrani, hingga orang-orang Hanif yang mencari kebenaran. Keberagaman ini menunjukkan bahwa manusia secara fitrah selalu mencari Tuhan dan kebenaran, dan Islam datang sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya.
Kedua, masyarakat Jahiliyah memiliki peradaban yang maju terutama dalam bidang sastra dan bahasa. Puisi dan kefasihan bahasa mencapai puncak keunggulan sehingga menjadi tantangan bagi Al-Qur'an yang turun dengan bahasa yang sempurna dan tidak bisa ditiru. Ini menunjukkan bahwa kebodohan Jahiliyah bukan berarti kebodohan intelektual tetapi kebodohan spiritual dan moral.
Ketiga, budaya Jahiliyah memiliki sisi positif seperti kemurahan hati, keberanian, dan ketepatan janji yang kemudian disempurnakan Islam, serta sisi negatif seperti penguburan anak perempuan, perang berkepanjangan, riba, perbudakan, khamr, dan judi yang dihapus oleh Islam. Ini mengajarkan bahwa Islam datang untuk memperbaiki, bukan menghancurkan semua tradisi.
Keempat, mempelajari masa Jahiliyah memiliki hikmah yang sangat besar yaitu mengukur besarnya perubahan yang dibawa Islam, menghargai perjuangan para nabi dan sahabat, mengenali bibit kebaikan yang masih ada, dan mencegah kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah di era modern. Jahiliyah bukan hanya tentang zaman dulu tetapi pola pikir yang menuhankan hawa nafsu, membenarkan kekerasan, dan menindas yang lemah.
8. PERTANYAAN PEMANTIK
P1: Pertanyaan pemantik yang digunakan dalam pembelajaran ini terbagi menjadi tiga kelompok.
Pertanyaan pembuka untuk apersepsi: "Anak-anak, pernahkah kalian membayangkan tinggal di padang pasir yang luas dengan suhu 50 derajat celcius di siang hari dan dingin di malam hari? Bagaimana rasanya dan bagaimana cara kalian bertahan hidup?" serta "Kalau kalian perhatikan, di Indonesia ada banyak suku seperti Jawa, Sunda, Batak, dan Minang. Apa yang membuat seseorang merasa menjadi bagian dari satu suku? Apa kelebihan dan kekurangan dari rasa kesukuan yang kuat?"
Pertanyaan kritis selama pembelajaran: "Mengapa menurut kalian masyarakat Arab begitu bangga dengan keturunan dan silsilah mereka hingga hampir semua orang hafal nasabnya?" "Apa yang terjadi jika rasa solidaritas terhadap kelompok sudah berlebihan? Bisa berikan contoh dalam kehidupan sehari-hari?" "Jika kalian hidup di zaman Jahiliyah dan melihat praktik balas dendam yang berlangsung turun-temurun, apa yang akan kalian lakukan untuk menghentikannya?" serta "Bagaimana kondisi alam yang keras bisa membentuk orang-orang yang pemberani tapi juga keras kepala? Apakah ada hubungannya?"
Pertanyaan reflektif di akhir pembelajaran: "Dari pelajaran hari ini, nilai-nilai positif apa dari masyarakat Arab pra-Islam yang menurut kalian masih relevan dan perlu kita pertahankan? Nilai-nilai negatif apa yang harus kita waspadai agar tidak muncul di masyarakat kita?" serta "Jika kalian menjadi pemimpin suatu kabilah, bagaimana cara kalian mengubah semboyan 'belalah saudaramu meskipun ia zalim' menjadi 'belalah saudaramu yang dizalimi, dan cegah saudaramu jika ia berbuat zalim'?"
P2: Pertanyaan pemantik yang digunakan dalam pembelajaran ini terbagi menjadi tiga kelompok.
Pertanyaan pembuka untuk apersepsi: "Anak-anak, apa pekerjaan orang tua kalian? Apakah ada yang berdagang? Menurut kalian, apa keuntungan menjadi pedagang?" serta "Pernahkah kalian mengunjungi pasar tradisional? Apa saja yang terjadi di sana selain jual beli? Bayangkan pasar di zaman Nabi dulu, apa yang terjadi di sana?"
Pertanyaan kritis selama pembelajaran: "Mengapa Makkah bisa menjadi pusat perdagangan yang ramai sementara kota lain di Jazirah Arab tidak?" "Apa yang membuat seorang pedagang sukses pada masa itu? Apakah sama dengan sekarang?" "Menurut kalian, mengapa jabatan Siqayah dan Rifadah yang berkaitan dengan pelayanan jemaah haji dipegang oleh Bani Hasyim, keluarga Nabi?" "Jika kita bandingkan dengan sistem pemerintahan modern, lembaga apa yang mirip dengan Dar an-Nadwah?"
Pertanyaan reflektif di akhir pembelajaran: "Dari sistem kepemimpinan di Makkah, nilai-nilai apa yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti musyawarah dan tanggung jawab?" "Apa hikmah yang bisa kita ambil dari kemajuan perdagangan masyarakat Arab pra-Islam?"
P3: Pertanyaan pemantik yang digunakan dalam pembelajaran ini terbagi menjadi tiga kelompok.
Pertanyaan pembuka untuk apersepsi: "Anak-anak, apa agama yang kalian anut? Apakah kalian tahu agama apa saja yang ada di Indonesia?" serta "Pernahkah kalian melihat orang menyembah patung atau berhala? Menurut kalian, bagaimana perasaan orang yang menyembah benda mati?"
Pertanyaan kritis selama pembelajaran: "Mengapa masyarakat Arab yang cerdas dan pandai berpuisi justru menyembah batu dan patung yang tidak bisa berbuat apa-apa?" "Menurut kalian, apa yang membuat orang-orang Hanif seperti Waraqah bin Naufal dan Zaid bin Amr tidak mau menyembah berhala?" "Bagaimana perasaan kalian jika mendengar ada bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup hanya karena ia perempuan? Apa yang salah dengan pemikiran seperti itu?" "Mengapa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab dan menjadi mukjizat yang tidak bisa ditandingi oleh para penyair Jahiliyah yang terkenal fasih?"
Pertanyaan reflektif di akhir pembelajaran: "Menurut kalian, apakah praktik Jahiliyah seperti fanatisme buta, kekerasan, dan penindasan masih ada di zaman sekarang? Berikan contoh!" "Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah di lingkungan kita?" "Dari semua materi yang telah dipelajari dalam tiga pertemuan ini, apa pelajaran paling berharga yang kalian dapatkan?"
9. LITERASI DAN PROSES PEMBELAJARAN
P1:
A. Literasi yang Dikembangkan
Literasi yang dikembangkan dalam pembelajaran ini meliputi enam jenis. Literasi baca tulis melalui membaca teks sejarah, mencatat informasi penting, membuat peta konsep, dan menulis kesimpulan. Literasi visual melalui membaca dan menginterpretasi peta geografis serta menganalisis gambar ilustrasi kehidupan Arab pra-Islam. Literasi digital melalui pencarian informasi tambahan dari sumber online terpercaya dan penggunaan aplikasi peta digital. Literasi numerasi melalui membaca data iklim seperti curah hujan dan suhu serta memahami konsep jarak dan wilayah. Literasi sosial budaya melalui pemahaman struktur sosial masyarakat lain serta pengembangan empati dan toleransi. Literasi kearifan lokal melalui perbandingan sistem kabilah Arab dengan sistem kekerabatan di Indonesia seperti suku-suku di Nusantara.
B. Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran pertemuan 1 dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Kegiatan Pendahuluan (15 menit): Guru membuka dengan salam, doa, dan presensi serta menyiapkan kondisi kelas. Apersepsi dilakukan dengan menunjukkan peta dunia dan menanyakan letak Arab Saudi serta pengetahuan siswa tentang negara tersebut. Motivasi diberikan dengan menayangkan gambar gurun pasir, unta, dan Ka'bah seraya bertanya bagaimana kehidupan sehari-hari di tempat itu 1400 tahun lalu. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan manfaat mempelajari materi ini.
Kegiatan Inti (60 menit): Kegiatan inti terbagi dalam dua tahap.
Tahap pertama tentang Letak dan Keadaan Alam Jazirah Arab selama 25 menit. Guru menampilkan peta Jazirah Arab dan menjelaskan letak serta batas wilayah, kemudian menampilkan gambar gurun, wadi, dan sumur. Siswa mengamati dan mencatat informasi penting. Guru memfasilitasi siswa untuk bertanya tentang kondisi alam yang ekstrem. Siswa dibagi menjadi empat kelompok dengan tugas masing-masing: kelompok 1 membahas gurun di Jazirah Arab, kelompok 2 membahas sumber air dan iklim, kelompok 3 membahas karakter masyarakat akibat alam, dan kelompok 4 membahas kota-kota penting. Setiap kelompok membaca buku teks halaman 20-23, mendiskusikan, dan mencatat poin-poin penting. Guru membimbing siswa menghubungkan kondisi alam dengan karakter masyarakat. Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain menanggapi.
Tahap kedua tentang Sistem Kabilah selama 35 menit. Guru menjelaskan konsep kabilah dan nasab, prinsip 'ashabiyah dengan contoh, tradisi jiwar dan ts'ar, serta menyebutkan kabilah-kabilah terkenal. Siswa mendengarkan, mencatat, dan memperhatikan contoh-contoh. Guru memancing pertanyaan kritis tentang dampak prinsip "belalah saudaramu meskipun ia zalim". Guru memberikan studi kasus tentang konflik antarkabilah untuk dianalisis siswa dalam kelompok. Siswa berdiskusi menganalisis dampak positif dan negatif sistem kabilah dengan membuat tabel. Beberapa kelompok menyampaikan hasil analisisnya.
Kegiatan Penutup (15 menit): Guru meminta siswa menuliskan tiga hal yang dipelajari hari ini dalam jurnal refleksi. Guru melaksanakan evaluasi formatif berupa kuis singkat lima soal pilihan ganda tentang materi hari ini. Guru menyimpulkan inti materi dan memberikan penguatan nilai bahwa lingkungan membentuk karakter dan kita harus waspada terhadap fanatisme kelompok yang berlebihan. Guru memberikan tugas rumah untuk mencari informasi tentang satu kabilah Quraisy dan menuliskan perannya dalam masyarakat Arab pra-Islam. Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.
C. Media dan Sumber Belajar
Media pembelajaran yang digunakan meliputi peta Jazirah Arab digital atau cetak, gambar kondisi alam seperti gurun, sumur, dan wadi, gambar ilustrasi kehidupan masyarakat Arab pra-Islam, power point presentasi, Lembar Kerja Peserta Didik atau LKPD, dan papan tulis atau whiteboard. Sumber belajar bersumber dari buku teks SKI X SMT1 halaman 20-29, Al-Qur'an dan terjemahan khususnya surat Quraisy, sumber online terpercaya tentang sejarah Arab pra-Islam, dan peta digital seperti Google Maps atau Google Earth.
D. Asesmen atau Penilaian
Penilaian dalam pembelajaran ini mencakup tiga jenis sesuai tuntutan Kurikulum Merdeka.
Asesmen Diagnostik dilakukan di awal pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal siswa melalui pertanyaan tentang pengetahuan geografi dan kehidupan masyarakat suku. Asesmen Formatif dilakukan selama proses pembelajaran melalui dua instrumen. Pertama, kuis lisan dengan lima soal yaitu sebutkan batas-batas Jazirah Arab, apa nama gurun pasir terluas di dunia yang terletak di selatan Jazirah Arab, apa yang dimaksud dengan 'ashabiyah, sebutkan tiga kabilah terkenal di Jazirah Arab, dan apa dampak negatif dari sistem kabilah. Kedua, jurnal refleksi yang menanyakan apa yang paling menarik dari pelajaran hari ini dan nilai apa yang bisa diambil dari sistem kabilah untuk kehidupan sehari-hari, ditulis dalam tiga sampai lima kalimat. Asesmen Sumatif akan dilaksanakan pada akhir bab melalui tes tertulis.
P2:
A. Literasi yang Dikembangkan
Literasi yang dikembangkan dalam pembelajaran ini meliputi literasi baca tulis melalui membaca teks sejarah tentang perdagangan dan sistem kepemimpinan, mencatat informasi penting, dan membuat ringkasan. Literasi visual melalui membaca peta jalur perdagangan dan menganalisis gambar struktur kepemimpinan Makkah. Literasi numerasi melalui pemahaman tentang mata uang dan sistem barter serta perhitungan keuntungan perdagangan. Literasi ekonomi melalui pemahaman konsep perdagangan, pasar, dan mata uang. Literasi sosial budaya melalui pemahaman sistem pemerintahan dan kepemimpinan masyarakat lain.
B. Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran pertemuan 2 dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Kegiatan Pendahuluan (15 menit): Guru membuka dengan salam, doa, dan presensi. Apersepsi dilakukan dengan menanyakan tentang pekerjaan orang tua siswa terutama yang berdagang dan pengalaman mengunjungi pasar. Guru mengaitkan dengan perdagangan masyarakat Arab pra-Islam. Motivasi diberikan dengan menayangkan gambar jalur perdagangan kuno dan pasar Ukaz. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengingatkan kembali materi pertemuan sebelumnya.
Kegiatan Inti (60 menit): Kegiatan inti terbagi dalam dua tahap.
Tahap pertama tentang Mata Pencaharian dan Perdagangan selama 30 menit. Guru menampilkan peta jalur perdagangan Jazirah Arab dan menjelaskan jalur-jalur perdagangan yang menghubungkan Makkah dengan peradaban lain. Siswa dibagi menjadi empat kelompok dengan tugas masing-masing: kelompok 1 membahas mata pencaharian masyarakat Arab, kelompok 2 membahas jalur perdagangan dari Yaman dan Habasyah, kelompok 3 membahas jalur perdagangan dari Syam, Irak, dan Persia, kelompok 4 membahas pasar-pasar besar dan mata uang. Setiap kelompok membaca buku teks halaman 30-33, mendiskusikan, dan mencatat poin-poin penting. Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain menanggapi.
Tahap kedua tentang Sistem Kepemimpinan selama 30 menit. Guru menjelaskan lembaga-lembaga kepemimpinan di Makkah seperti Dar an-Nadwah, Hijabah, Siqayah, Rifadah, Liwa', dan Qiyadah beserta kabilah yang memegangnya. Siswa mendengarkan dan mencatat. Guru memberikan studi kasus tentang pembagian tugas dalam sebuah organisasi untuk dianalisis siswa. Siswa berdiskusi menganalisis fungsi masing-masing lembaga dan kesamaannya dengan struktur pemerintahan modern. Guru memfasilitasi tanya jawab tentang sistem tahkim, hilf, dan penyelesaian konflik. Beberapa kelompok menyampaikan hasil analisisnya.
Kegiatan Penutup (15 menit): Guru meminta siswa menuliskan kesimpulan tentang jalur perdagangan dan sistem kepemimpinan. Guru melaksanakan evaluasi formatif berupa pertanyaan lisan. Guru memberikan penguatan tentang pentingnya musyawarah dan tanggung jawab sosial. Guru memberikan tugas rumah untuk membuat peta konsep sistem kepemimpinan Makkah. Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.
C. Media dan Sumber Belajar
Media pembelajaran yang digunakan meliputi peta jalur perdagangan Jazirah Arab, gambar pasar Ukaz, gambar struktur kepemimpinan Makkah, power point presentasi, LKPD, dan papan tulis. Sumber belajar bersumber dari buku teks SKI X SMT1 halaman 30-37, Al-Qur'an surat Quraisy ayat 1-2, sumber online tentang sejarah perdagangan Arab, dan artikel tentang sistem kepemimpinan Quraisy.
D. Asesmen atau Penilaian
Asesmen Formatif dilakukan melalui pertanyaan lisan tentang jalur perdagangan dan lembaga kepemimpinan, diskusi kelompok yang dinilai dari partisipasi dan keaktifan, serta tugas membuat peta konsep sistem kepemimpinan Makkah. Asesmen Sumatif akan dilaksanakan pada akhir bab melalui tes tertulis yang mencakup materi pertemuan 1 dan 2.
P3:
A. Literasi yang Dikembangkan
Literasi yang dikembangkan dalam pembelajaran ini meliputi literasi baca tulis melalui membaca teks sejarah tentang kepercayaan dan budaya Jahiliyah, mencatat informasi penting, dan membuat refleksi. Literasi sastra melalui pemahaman puisi Jahiliyah dan keindahan bahasa Arab. Literasi spiritual melalui pemahaman tentang kepercayaan dan pencarian kebenaran. Literasi moral melalui pemahaman nilai-nilai positif dan negatif budaya Jahiliyah. Literasi sosial budaya melalui pemahaman tentang tradisi dan adat istiadat masyarakat Arab. Literasi kritis melalui analisis hikmah dan relevansi masa Jahiliyah dengan kehidupan modern.
B. Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran pertemuan 3 dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Kegiatan Pendahuluan (15 menit): Guru membuka dengan salam, doa, dan presensi. Apersepsi dilakukan dengan menanyakan tentang agama yang dianut siswa dan agama-agama yang mereka ketahui. Guru mengaitkan dengan kepercayaan masyarakat Arab pra-Islam. Motivasi diberikan dengan menayangkan gambar Ka'bah yang dulunya dipenuhi berhala dan gambar praktik penguburan anak perempuan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengingatkan kembali materi pertemuan sebelumnya.
Kegiatan Inti (60 menit): Kegiatan inti terbagi dalam dua tahap.
Tahap pertama tentang Kepercayaan Masyarakat Arab selama 25 menit. Guru menjelaskan sistem kepercayaan masyarakat Arab meliputi penyembahan berhala dengan menyebutkan nama-nama berhala dan kabilah pemujanya, agama Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang Hanif. Siswa dibagi menjadi empat kelompok dengan tugas masing-masing: kelompok 1 membahas berhala-berhala utama dan pemujanya, kelompok 2 membahas orang-orang Hanif dan tokoh-tokohnya, kelompok 3 membahas agama Yahudi di Jazirah Arab, kelompok 4 membahas agama Nasrani di Jazirah Arab. Setiap kelompok membaca buku teks halaman 38-42, mendiskusikan, dan mencatat poin-poin penting. Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lain menanggapi.
Tahap kedua tentang Budaya dan Tradisi Jahiliyah serta Hikmah selama 35 menit. Guru menjelaskan kemajuan sastra puisi Jahiliyah dengan menyebutkan ciri-ciri, tema, dan penyair terkenal, nilai-nilai positif yang dijunjung tinggi, keburukan budaya seperti wa'd, perang, riba, perbudakan, khamr, dan judi, serta hikmah mempelajari masa Jahiliyah. Siswa mendengarkan, mencatat, dan memperhatikan contoh-contoh. Guru memancing pertanyaan kritis tentang keburukan budaya Jahiliyah dan relevansinya dengan masa kini. Guru memberikan studi kasus tentang praktik fanatisme buta di era modern untuk dianalisis siswa. Siswa berdiskusi menganalisis hikmah mempelajari masa Jahiliyah dan cara mencegah kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah. Beberapa kelompok menyampaikan hasil analisisnya.
Kegiatan Penutup (15 menit): Guru meminta siswa menuliskan refleksi tentang pelajaran paling berharga dari tiga pertemuan. Guru melaksanakan evaluasi formatif berupa kuis lisan tentang materi pertemuan 3. Guru menyimpulkan inti materi dan memberikan penguatan tentang pentingnya waspada terhadap Jahiliyah modern. Guru memberikan tugas untuk membuat rangkuman seluruh bab 1 sebagai persiapan ulangan harian. Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.
C. Media dan Sumber Belajar
Media pembelajaran yang digunakan meliputi gambar berhala-berhala utama (Hubal, Latta, Uzza, Manat), gambar Ka'bah sebelum dan sesudah Islam, gambar praktik penguburan anak perempuan, contoh puisi Jahiliyah, power point presentasi, LKPD, dan papan tulis. Sumber belajar bersumber dari buku teks SKI X SMT1 halaman 38-52, Al-Qur'an dan terjemahan, sumber online tentang tokoh-tokoh Hanif, artikel tentang budaya Jahiliyah, dan video dokumenter singkat tentang kehidupan Arab pra-Islam.
D. Asesmen atau Penilaian
Asesmen Formatif dilakukan melalui pertanyaan lisan tentang berhala dan tokoh Hanif, diskusi kelompok yang dinilai dari partisipasi dan keaktifan, tugas membuat rangkuman seluruh bab 1, serta jurnal refleksi tentang pelajaran paling berharga. Asesmen Sumatif akan dilaksanakan pada akhir bab melalui tes tertulis yang mencakup seluruh materi pertemuan 1, 2, dan 3. Soal tes tertulis meliputi pilihan ganda, uraian singkat, dan esai tentang hikmah mempelajari masa Jahiliyah.
10. KEIMANAN DAN KETAKWAAN TERHADAP TUHAN YME
P1: Melalui pembelajaran tentang kondisi alam Jazirah Arab yang keras dan sistem kabilah yang fanatik, peserta didik diajak merenungkan kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam dengan segala kompleksitasnya. Mereka menyadari bahwa di balik kerasnya kehidupan gurun, terdapat hikmah dan pelajaran tentang ketergantungan manusia kepada Sang Pencipta. Peserta didik juga belajar bahwa keimanan yang benar adalah yang membawa pada kedamaian, bukan fanatisme buta seperti 'ashabiyah yang justru merusak.
P2: Pembelajaran tentang perdagangan dan sistem kepemimpinan Makkah mengajarkan bahwa Allah SWT mengatur rezeki dan perjalanan sejarah umat manusia. Kesuksesan Quraisy dalam berdagang adalah bukti karunia Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Quraisy. Peserta didik diajak bersyukur atas nikmat keamanan dan kemakmuran serta meyakini bahwa kepemimpinan yang amanah adalah amanah dari Allah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.
P3: Materi kepercayaan masyarakat Arab pra-Islam yang menyembah berhala menunjukkan betapa pentingnya keimanan yang benar kepada Allah SWT. Peserta didik memahami bahwa menyembah selain Allah adalah kesesatan yang merugikan. Keberadaan orang-orang Hanif yang mencari kebenaran mengajarkan bahwa fitrah manusia adalah bertauhid dan mencari Tuhan Yang Esa. Islam hadir untuk meluruskan keimanan dan mengajak manusia kembali kepada tauhid yang murni.
11. KEWARGAAN
P1: Melalui pembelajaran sistem kabilah, peserta didik belajar tentang pentingnya persatuan dan kesatuan di atas kepentingan kelompok. Fanatisme suku ('ashabiyah) yang berlebihan terbukti merusak dan menghambat kemajuan. Peserta didik diajak menjadi warga negara yang baik dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan golongan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila yaitu persatuan Indonesia.
P2: Sistem kepemimpinan Makkah dengan lembaga-lembaganya mengajarkan tentang pentingnya tata kelola pemerintahan dan pembagian tugas yang jelas. Peserta didik diajak mengenali sistem musyawarah (Dar an-Nadwah) sebagai cikal bakal demokrasi yang kemudian disempurnakan oleh Islam. Nilai-nilai kewargaan seperti tanggung jawab sosial (Siqayah dan Rifadah) menjadi teladan bagi peserta didik untuk berkontribusi bagi masyarakat.
P3: Mempelajari keberagaman kepercayaan di Jazirah Arab (berhala, Yahudi, Nasrani, Hanif) mengajarkan peserta didik tentang pentingnya toleransi dan menghormati pemeluk agama lain. Meskipun Islam datang untuk meluruskan kepercayaan, Nabi Muhammad SAW tetap menghormati ahli kitab. Peserta didik diajak menjadi warga negara yang toleran, menghargai perbedaan, serta menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
12. PENALARAN KRITIS
P1: Peserta didik dilatih berpikir kritis untuk menganalisis sebab-akibat antara kondisi geografis yang keras dengan karakter masyarakat Arab yang tangguh, ulet, namun juga keras kepala. Mereka juga diajak mengkritisi dampak negatif sistem kabilah seperti fanatisme buta dan perang antarkabilah yang berkepanjangan, serta membandingkan dengan kehidupan bermasyarakat di era modern.
P2: Peserta didik dilatih menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan Makkah menjadi pusat perdagangan dan bagaimana sistem kepemimpinan yang terorganisir dapat menunjang kemajuan suatu kota. Mereka diajak berpikir kritis tentang fungsi lembaga-lembaga kepemimpinan di Makkah dan membandingkannya dengan sistem pemerintahan modern. Pertanyaan kritis seperti "Mengapa Makkah bisa maju sementara kota lain tidak?" mendorong kemampuan analisis.
P3: Peserta didik diajak berpikir kritis tentang kontradiksi masyarakat Arab yang cerdas dan pandai berpuisi namun menyembah batu dan patung yang tidak berdaya. Mereka menganalisis mengapa orang-orang Hanif seperti Waraqah dan Zaid bin Amr menolak penyembahan berhala dan mencari kebenaran. Peserta didik juga dilatih mengkritisi keburukan budaya Jahiliyah seperti penguburan anak perempuan dan relevansinya dengan fenomena modern.
13. KREATIF
P1: Peserta didik diajak membuat peta konsep yang kreatif tentang letak geografis dan sistem kabilah Arab. Mereka dapat menggambar peta Jazirah Arab dengan simbol-simbol yang menarik, membuat diagram tentang dampak positif dan negatif sistem kabilah, atau menulis puisi sederhana yang menggambarkan kerasnya kehidupan di gurun.
P2: Peserta didik diajak membuat peta jalur perdagangan yang kreatif dengan menggunakan simbol-simbol untuk menggambarkan komoditas yang diperdagangkan dari berbagai wilayah. Mereka juga dapat membuat bagan struktur kepemimpinan Makkah yang menarik atau bermain peran (role play) sebagai anggota Dar an-Nadwah yang sedang bermusyawarah.
P3: Peserta didik diajak membuat karya kreatif seperti puisi atau pantun yang menggambarkan perubahan besar yang dibawa Islam dari masa Jahiliyah. Mereka dapat membuat poster tentang bahaya Jahiliyah modern atau drama pendek tentang perjuangan Nabi SAW di tengah masyarakat Jahiliyah. Kreativitas juga dikembangkan melalui pembuatan mind mapping tentang budaya dan tradisi Jahiliyah.
14. KOLABORASI
P1: Pembelajaran menggunakan metode diskusi kelompok di mana peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membahas topik-topik seperti gurun, sumber air, karakter masyarakat, dan kota-kota penting. Kolaborasi terjadi saat mereka berdiskusi, membagi tugas, mencari informasi dari buku teks, dan menyusun presentasi. Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan hasil diskusi.
P2: Kolaborasi dilakukan saat peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menganalisis jalur perdagangan dan lembaga kepemimpinan Makkah. Setiap kelompok memiliki tugas spesifik yang harus diselesaikan bersama. Mereka belajar mendengarkan pendapat teman, menghargai perbedaan, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Kolaborasi juga terjadi saat presentasi dan tanya jawab antar kelompok.
P3: Kolaborasi dilakukan saat peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk membahas kepercayaan masyarakat Arab, budaya Jahiliyah, dan hikmah mempelajarinya. Setiap kelompok bertanggung jawab untuk mempresentasikan satu topik. Mereka belajar bekerja sama, saling membantu, dan mengembangkan kemampuan komunikasi interpersonal yang baik.
15. KEMANDIRIAN
P1: Peserta didik didorong untuk mencari informasi tambahan secara mandiri dari berbagai sumber tentang kondisi geografis dan sistem kabilah Arab. Tugas rumah untuk mencari informasi tentang satu kabilah Quraisy melatih kemandirian dalam belajar. Mereka juga dilatih untuk membuat catatan dan peta konsep secara mandiri.
P2: Peserta didik didorong untuk mencari informasi tambahan secara mandiri tentang jalur perdagangan dan sistem kepemimpinan dari sumber online atau buku lain. Tugas membuat peta konsep sistem kepemimpinan Makkah melatih kemandirian dalam mengorganisasi informasi. Mereka juga dilatih untuk membuat kesimpulan secara mandiri.
P3: Peserta didik didorong untuk mencari informasi tambahan secara mandiri tentang tokoh-tokoh Hanif dan budaya Jahiliyah. Tugas membuat rangkuman seluruh bab 1 melatih kemandirian dalam belajar dan mengorganisasi informasi. Mereka juga dilatih untuk merefleksikan pembelajaran secara mandiri melalui jurnal refleksi.
16. KESEHATAN
P1: Pembelajaran tentang kondisi alam Jazirah Arab yang ekstrem dengan suhu 50°C dan minim air mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan menghargai nikmat air. Peserta didik diajak bersyukur atas kemudahan akses air bersih dan lingkungan yang sehat di Indonesia. Mereka juga belajar bahwa stres dan konflik berkepanjangan akibat fanatisme ('ashabiyah) berdampak buruk pada kesehatan mental.
P2: Pembelajaran tentang perdagangan yang sehat dan bebas dari riba mengajarkan pentingnya ekonomi yang sehat bagi kesejahteraan masyarakat. Peserta didik diajak memahami bahwa riba merugikan dan merusak kesehatan ekonomi. Sistem kepemimpinan yang baik menciptakan ketertiban sosial yang berdampak positif pada kesehatan mental masyarakat.
P3: Materi tentang khamr dan judi sebagai hiburan masyarakat Jahiliyah mengajarkan bahaya minuman memabukkan dan perjudian bagi kesehatan fisik dan mental. Peserta didik diajak menjaga kesehatan dengan menjauhi hal-hal yang merusak. Praktik penguburan anak perempuan juga menunjukkan betapa pentingnya kesehatan mental dan penghargaan terhadap hak hidup setiap manusia.
17. KOMUNIKASI
P1: Peserta didik melatih kemampuan komunikasi saat mempresentasikan hasil diskusi kelompok tentang kondisi alam dan sistem kabilah. Mereka belajar menyampaikan pendapat dengan jelas, mendengarkan tanggapan dari kelompok lain, dan merespon pertanyaan dengan baik. Guru juga melatih komunikasi tertulis melalui pembuatan peta konsep dan jurnal refleksi.
P2: Peserta didik melatih kemampuan komunikasi saat mempresentasikan hasil diskusi tentang perdagangan dan sistem kepemimpinan. Mereka belajar berargumentasi dan mempertahankan pendapat dengan sopan. Tanya jawab antar kelompok melatih kemampuan komunikasi dua arah yang efektif.
P3: Peserta didik melatih kemampuan komunikasi saat mempresentasikan hasil diskusi tentang kepercayaan dan budaya Jahiliyah. Mereka belajar menyampaikan gagasan kompleks dengan bahasa yang mudah dipahami. Diskusi tentang hikmah dan relevansi masa Jahiliyah dengan kehidupan modern melatih kemampuan komunikasi kritis dan reflektif.
18. RASA INGIN TAHU
P1: Rasa ingin tahu peserta didik dipicu melalui pertanyaan pemantik tentang bagaimana kehidupan di gurun dengan suhu ekstrem dan bagaimana sistem kabilah bekerja. Mereka didorong untuk bertanya tentang kondisi alam yang unik, sumber air di tengah gurun, dan alasan mengapa masyarakat Arab sangat bangga dengan nasab dan keturunannya.
P2: Rasa ingin tahu peserta didik dipicu melalui pertanyaan tentang bagaimana Makkah bisa menjadi pusat perdagangan yang makmur dan bagaimana sistem kepemimpinan di Makkah dijalankan. Mereka didorong untuk menggali informasi tentang jalur perdagangan, komoditas yang diperdagangkan, dan fungsi lembaga-lembaga kepemimpinan.
P3: Rasa ingin tahu peserta didik dipicu melalui pertanyaan tentang mengapa masyarakat Arab yang cerdas justru menyembah berhala dan bagaimana orang-orang Hanif menemukan kebenaran. Mereka didorong untuk meneliti lebih lanjut tentang tokoh-tokoh Hanif, berhala-berhala utama, dan perubahan besar yang terjadi setelah kedatangan Islam.
19. KEBERANIAN
P1: Peserta didik dilatih berani mengemukakan pendapat saat diskusi kelompok dan presentasi. Mereka juga diajak berani mengkritisi praktik 'ashabiyah yang merugikan meskipun itu adalah tradisi turun-temurun. Keteladanan dari masyarakat Arab yang pemberani menghadapi kerasnya alam menjadi inspirasi untuk berani menghadapi tantangan.
P2: Peserta didik dilatih berani mengajukan pertanyaan kritis tentang sistem kepemimpinan dan perdagangan. Mereka juga diajak berani menyampaikan gagasan tentang bagaimana seharusnya kepemimpinan yang baik. Keberanian para pedagang Quraisy menjelajahi jalur perdagangan berbahaya menjadi teladan untuk berani mengambil risiko yang terukur.
P3: Peserta didik dilatih berani bersikap jujur tentang nilai-nilai yang benar dan berani menolak keburukan budaya seperti fanatisme buta dan penindasan. Mereka diajak berani menjadi seperti orang-orang Hanif yang berani berbeda dan mencari kebenaran di tengah kesesatan. Keberanian Nabi SAW dan para sahabat berdakwah di tengah tekanan berat menjadi inspirasi utama.
20. KETANGGUHAN
P1: Peserta didik belajar tentang ketangguhan masyarakat Arab yang mampu bertahan hidup di gurun dengan kondisi alam yang sangat keras. Mereka diajak meneladani sikap tangguh, ulet, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan. Ketangguhan ini juga tercermin dalam kemampuan mereka mempertahankan eksistensi kabilah di tengah konflik dan persaingan.
P2: Peserta didik belajar tentang ketangguhan para pedagang Quraisy yang mampu menjelajahi jalur perdagangan panjang melewati gurun dan laut dengan risiko tinggi. Mereka diajak meneladani ketangguhan dalam berusaha dan pantang menyerah. Ketangguhan sistem kepemimpinan Makkah dalam menjaga stabilitas kota di tengah persaingan kabilah juga menjadi pelajaran berharga.
P3: Peserta didik belajar tentang ketangguhan para sahabat dan orang-orang Hanif yang tetap teguh pada kebenaran di tengah masyarakat yang menyembah berhala. Mereka diajak meneladani ketangguhan Bilal bin Rabah yang rela disiksa karena mempertahankan keimanannya. Ketangguhan ini menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.
21. ETIKA
P1: Peserta didik belajar tentang etika sosial melalui sistem kabilah yang mengajarkan solidaritas dan perlindungan (jiwar), namun juga mengkritisi etika yang salah seperti 'ashabiyah dan balas dendam (ts'ar). Mereka diajak memahami bahwa etika yang benar adalah yang membawa pada kebaikan bersama, bukan hanya kepentingan kelompok. Semboyan Islam "belalah saudaramu yang dizalimi, dan cegah saudaramu jika ia berbuat zalim" menjadi pedoman etika yang diajarkan.
P2: Peserta didik belajar tentang etika dalam perdagangan dan kepemimpinan. Mereka memahami bahwa perdagangan harus jujur dan bebas dari riba, serta kepemimpinan harus amanah dan melayani masyarakat. Lembaga Siqayah dan Rifadah mengajarkan etika pelayanan kepada sesama. Sistem musyawarah di Dar an-Nadwah mengajarkan etika pengambilan keputusan bersama.
P3: Peserta didik belajar tentang etika melalui nilai-nilai positif yang dijunjung masyarakat Jahiliyah seperti memuliakan tamu (dhiyafah), menepati janji (wafa'), dan keberanian (saja'ah). Mereka juga belajar mengkritisi praktik tidak etis seperti penguburan anak perempuan, riba, perbudakan, khamr, dan judi. Islam datang untuk meluruskan etika dan mengembalikan fitrah kemanusiaan yang mulia.
22. METAKOGNISI DAN META EMOSI
P1: Peserta didik dilatih metakognisi melalui aktivitas refleksi di akhir pembelajaran dengan menuliskan tiga hal yang dipelajari hari ini dan nilai yang bisa diambil untuk kehidupan sehari-hari. Mereka diajak berpikir tentang bagaimana mereka belajar (proses belajar), apa yang sudah dipahami, dan apa yang masih perlu dipelajari. Meta emosi dilatih melalui pengelolaan emosi saat berdiskusi, menerima kritik, dan merespons perbedaan pendapat. Mereka juga diajak mengelola emosi saat mempelajari praktik negatif seperti balas dendam dan fanatisme.
P2: Peserta didik dilatih metakognisi melalui pembuatan peta konsep dan kesimpulan tentang jalur perdagangan dan sistem kepemimpinan. Mereka diajak merencanakan strategi belajar, memonitor pemahaman, dan mengevaluasi hasil belajar. Meta emosi dilatih melalui pengelolaan emosi saat presentasi dan tanya jawab. Mereka belajar mengendalikan rasa gugup, percaya diri, dan menghargai pendapat orang lain.
P3: Peserta didik dilatih metakognisi melalui pembuatan rangkuman seluruh bab 1 dan jurnal refleksi tentang pelajaran paling berharga. Mereka diajak mengevaluasi keseluruhan proses pembelajaran dan mengidentifikasi strategi belajar yang efektif. Meta emosi dilatih melalui pengelolaan emosi saat mempelajari praktik keji seperti penguburan anak perempuan. Mereka diajak mengembangkan empati, kepedulian, dan komitmen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
23. TARGET PESERTA DIDIK
P1: Target peserta didik pada pertemuan 1 adalah seluruh peserta didik kelas X yang mengikuti mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Peserta didik diharapkan memiliki kemampuan dasar membaca, menulis, dan berpikir kritis pada tingkat kelas X SMA/MA. Mereka juga diharapkan memiliki kesiapan untuk mengikuti pembelajaran aktif dengan metode diskusi kelompok dan presentasi.
P2: Target peserta didik pada pertemuan 2 adalah seluruh peserta didik kelas X yang telah mengikuti pertemuan 1. Mereka diharapkan telah memahami materi dasar tentang kondisi geografis dan sistem kabilah sebagai prasyarat untuk mempelajari materi ekonomi dan kepemimpinan. Peserta didik juga diharapkan memiliki motivasi untuk terus menggali informasi dan berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok.
P3: Target peserta didik pada pertemuan 3 adalah seluruh peserta didik kelas X yang telah mengikuti pertemuan 1 dan 2. Mereka diharapkan telah memiliki pemahaman yang utuh tentang masyarakat Arab pra-Islam dan siap untuk menganalisis kepercayaan, budaya, serta hikmah dari masa Jahiliyah. Peserta didik juga diharapkan mampu merefleksikan pembelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan modern.
24. PRAKTIK PEDAGOGIS
P1: Praktik pedagogis yang digunakan dalam pertemuan 1 adalah pendekatan saintifik yang meliputi kegiatan mengamati (peta dan gambar), menanya (pertanyaan pemantik), mengumpulkan informasi (diskusi kelompok), mengasosiasi (menghubungkan kondisi alam dengan karakter masyarakat), dan mengomunikasikan (presentasi). Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan pemahaman secara mandiri melalui eksplorasi sumber belajar. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, dan presentasi.
P2: Praktik pedagogis pada pertemuan 2 melanjutkan pendekatan saintifik dengan fokus pada eksplorasi peta perdagangan dan analisis sistem kepemimpinan. Guru menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok dengan pembagian tugas spesifik, studi kasus tentang pembagian tugas dalam organisasi, serta presentasi hasil diskusi. Guru juga menerapkan pembelajaran kontekstual dengan mengaitkan perdagangan kuno dengan ekonomi modern dan sistem musyawarah dengan demokrasi.
P3: Praktik pedagogis pada pertemuan 3 menggunakan pendekatan saintifik dengan fokus pada analisis kepercayaan, budaya, dan hikmah. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok dengan pembagian topik spesifik, studi kasus tentang fanatisme modern, presentasi, dan refleksi tertulis. Guru juga menerapkan pembelajaran kontekstual dengan mengaitkan budaya Jahiliyah dengan fenomena sosial modern dan mendorong siswa untuk berpikir kritis dan reflektif.
25. PEMANFAATAN DIGITAL
P1: Pemanfaatan digital dalam pertemuan 1 meliputi penggunaan peta digital (Google Maps atau Google Earth) untuk menunjukkan letak Jazirah Arab secara interaktif, penayangan gambar kondisi alam dan ilustrasi kehidupan Arab pra-Islam melalui power point, serta pemanfaatan sumber online terpercaya untuk mencari informasi tambahan tentang sistem kabilah. Guru juga dapat menggunakan video pendek tentang kehidupan di gurun untuk memvisualisasikan kondisi alam yang keras.
P2: Pemanfaatan digital dalam pertemuan 2 meliputi penggunaan peta digital jalur perdagangan kuno, penayangan gambar pasar Ukaz dan struktur kepemimpinan Makkah melalui power point, serta pemanfaatan sumber online untuk mencari informasi tentang sejarah perdagangan Arab dan sistem kepemimpinan Quraisy. Guru juga dapat menggunakan video dokumenter tentang jalur perdagangan kuno di Jazirah Arab untuk memperkaya pemahaman siswa.
P3: Pemanfaatan digital dalam pertemuan 3 meliputi penayangan gambar berhala-berhala utama, gambar Ka'bah sebelum dan sesudah Islam, serta contoh puisi Jahiliyah melalui power point. Guru juga dapat memanfaatkan sumber online tentang tokoh-tokoh Hanif dan artikel tentang budaya Jahiliyah, serta video dokumenter singkat tentang kehidupan Arab pra-Islam untuk memberikan gambaran yang lebih hidup kepada siswa.
26. PEMBELAJARAN BERKESADARAN (MINDFUL LEARNING)
P1: Pembelajaran berkesadaran pada pertemuan 1 diterapkan dengan mengajak peserta didik untuk hadir sepenuhnya dalam proses belajar. Guru memulai pembelajaran dengan menenangkan pikiran dan memfokuskan perhatian pada materi yang akan dipelajari. Saat mempelajari kondisi alam dan sistem kabilah, peserta didik diajak merasakan bagaimana kerasnya kehidupan di gurun dan bagaimana fanatisme dapat merusak. Mereka juga diajak merefleksikan kesadaran diri tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara solidaritas dan kebenaran.
P2: Pembelajaran berkesadaran pada pertemuan 2 diterapkan dengan mengajak peserta didik untuk fokus pada pemahaman tentang jalur perdagangan dan sistem kepemimpinan. Guru membimbing siswa untuk menyadari pentingnya kejujuran dalam perdagangan dan amanah dalam kepemimpinan. Siswa diajak merenungkan bagaimana nilai-nilai ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Refleksi diri tentang sikap terhadap pekerjaan dan tanggung jawab menjadi bagian dari pembelajaran berkesadaran.
P3: Pembelajaran berkesadaran pada pertemuan 3 diterapkan dengan mengajak peserta didik untuk menyadari pentingnya keimanan yang benar dan dampak negatif dari fanatisme buta. Saat mempelajari praktik penguburan anak perempuan, peserta didik diajak merasakan empati dan kepedulian terhadap sesama. Refleksi tentang nilai-nilai kemanusiaan dan pentingnya menegakkan keadilan menjadi bagian dari pembelajaran berkesadaran di pertemuan ini.
27. PEMBELAJARAN BERMAKNA (MEANINGFUL LEARNING)
P1: Pembelajaran bermakna pada pertemuan 1 diterapkan dengan menghubungkan materi kondisi alam dan sistem kabilah dengan kehidupan peserta didik saat ini. Guru mengaitkan kerasnya kehidupan gurun dengan tantangan yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari, serta menghubungkan fanatisme 'ashabiyah dengan fenomena fanatisme kelompok di era modern seperti fanatisme suporter sepak bola atau fanatisme politik. Siswa diajak memahami bahwa pelajaran sejarah memiliki relevansi dengan kehidupan mereka sekarang.
P2: Pembelajaran bermakna pada pertemuan 2 diterapkan dengan menghubungkan perdagangan dan sistem kepemimpinan Makkah dengan kehidupan ekonomi dan politik saat ini. Guru mengaitkan jalur perdagangan kuno dengan perdagangan global modern, pasar Ukaz dengan pusat perbelanjaan saat ini, dan sistem musyawarah Dar an-Nadwah dengan sistem demokrasi. Siswa diajak memahami bahwa nilai-nilai kepemimpinan dan ekonomi yang baik telah diajarkan sejak zaman dahulu.
P3: Pembelajaran bermakna pada pertemuan 3 diterapkan dengan menghubungkan kepercayaan dan budaya Jahiliyah dengan realitas sosial saat ini. Guru mengaitkan penyembahan berhala dengan praktik menyembah materi, kekuasaan, atau hawa nafsu di era modern. Siswa diajak merefleksikan apakah praktik Jahiliyah seperti fanatisme buta, kekerasan, dan penindasan masih ada di zaman sekarang dan bagaimana mereka dapat mencegahnya. Pemahaman tentang hikmah mempelajari masa Jahiliyah menjadi sangat bermakna bagi pembentukan karakter siswa.
28. PEMBELAJARAN MENGGEMBIRAKAN (JOYFUL LEARNING)
P1: Pembelajaran menggembirakan pada pertemuan 1 diterapkan melalui metode yang interaktif dan menyenangkan. Guru menggunakan media gambar dan peta yang menarik, ice breaking tentang kehidupan di gurun, diskusi kelompok yang melibatkan semua siswa, dan permainan sederhana seperti tebak nama kota atau kabilah. Suasana belajar yang santai namun serius, dengan humor yang sesuai, membuat siswa merasa nyaman dan antusias dalam belajar.
P2: Pembelajaran menggembirakan pada pertemuan 2 diterapkan melalui aktivitas yang melibatkan siswa secara aktif. Guru dapat menggunakan simulasi perdagangan sederhana di kelas, role play sebagai anggota Dar an-Nadwah yang sedang bermusyawarah, dan kompetisi kelompok untuk membuat peta perdagangan terbaik. Suasana belajar yang ceria dan kompetitif secara sehat membuat siswa bersemangat untuk belajar.
P3: Pembelajaran menggembirakan pada pertemuan 3 diterapkan melalui metode yang kreatif dan reflektif. Guru dapat mengadakan lomba membuat puisi atau pantun tentang masa Jahiliyah, drama pendek tentang kehidupan Nabi SAW di tengah masyarakat Jahiliyah, atau diskusi ringan tentang nilai-nilai positif dan negatif budaya Jahiliyah. Kegiatan yang variatif dan melibatkan ekspresi diri membuat siswa menikmati proses belajar.
29. LINGKUNGAN PEMBELAJARAN
P1: Lingkungan pembelajaran pada pertemuan 1 diciptakan sebagai lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif untuk belajar. Guru mengatur tempat duduk siswa dalam formasi kelompok untuk memudahkan diskusi. Ruang kelas dihias dengan peta Jazirah Arab dan gambar-gambar yang relevan. Guru menciptakan suasana saling menghormati, menghargai pendapat, dan keberanian bertanya. Norma kelas seperti mendengarkan saat teman berbicara dan tidak mengejek dibangun sejak awal.
P2: Lingkungan pembelajaran pada pertemuan 2 melanjutkan suasana yang kondusif dari pertemuan sebelumnya. Guru menambahkan pajangan peta jalur perdagangan dan struktur kepemimpinan Makkah di dinding kelas untuk memudahkan siswa mengakses informasi. Lingkungan belajar yang demokratis dan partisipatif terus dibangun sehingga siswa merasa memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan bertanya.
P3: Lingkungan pembelajaran pada pertemuan 3 menciptakan suasana yang reflektif dan kontemplatif. Guru mengatur ruang yang tenang untuk kegiatan refleksi, dengan pencahayaan yang cukup dan sirkulasi udara yang baik. Lingkungan fisik dan psikis yang nyaman memungkinkan siswa untuk berpikir secara mendalam tentang materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan nilai-nilai kehidupan.
30. KEMITRAAN PEMBELAJARAN
P1: Kemitraan pembelajaran pada pertemuan 1 melibatkan guru dan peserta didik sebagai mitra dalam proses belajar. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi siswa, bukan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Orang tua juga dilibatkan melalui komunikasi tentang materi yang dipelajari dan tugas rumah yang diberikan. Guru juga dapat mengundang narasumber atau menggunakan sumber belajar dari perpustakaan dan internet untuk memperkaya pembelajaran.
P2: Kemitraan pembelajaran pada pertemuan 2 memperkuat kemitraan antara guru dan siswa melalui kolaborasi dalam diskusi dan analisis. Guru memberikan kepercayaan kepada siswa untuk menggali informasi secara mandiri dan bertanggung jawab atas tugas kelompok. Kemitraan dengan orang tua juga dijaga melalui pemberian informasi tentang kemajuan belajar siswa dan tugas yang diberikan.
P3: Kemitraan pembelajaran pada pertemuan 3 melibatkan seluruh elemen yang mendukung proses belajar. Guru membangun kemitraan yang setara dengan siswa, menghargai setiap pendapat dan pertanyaan. Siswa didorong untuk saling membantu dan belajar dari satu sama lain. Orang tua dan masyarakat juga dilibatkan melalui kegiatan yang menghubungkan materi dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari.
31. KURIKULUM BERBASIS CINTA
(Pilihan: Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya)
P1: Pada pertemuan 1, cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya ditanamkan melalui pemahaman bahwa Allah SWT menciptakan alam dengan segala hukum dan ketentuannya. Kondisi geografis Jazirah Arab yang keras mengajarkan bahwa Allah SWT menguji hamba-Nya dengan berbagai cara. Cinta kepada Rasulullah SAW ditanamkan dengan memahami bahwa beliau lahir dan dibesarkan di tengah masyarakat yang keras dan fanatik, namun tetap menjadi teladan terbaik dengan akhlak yang mulia. Melalui pembelajaran tentang sistem kabilah, peserta didik belajar bahwa Rasulullah SAW berasal dari Bani Hasyim dan memiliki silsilah yang mulia, serta meneladani beliau dalam mengutamakan kebenaran di atas fanatisme.
P2: Pada pertemuan 2, cinta kepada Allah SWT ditanamkan melalui pemahaman bahwa rezeki dan keberhasilan dalam perdagangan adalah karunia Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Quraisy. Cinta kepada Rasulullah SAW ditanamkan melalui pengenalan bahwa kakek beliau, Abdul Muthalib, memegang jabatan Siqayah dan Rifadah yang mulia yaitu melayani jemaah haji. Ini mengajarkan bahwa Rasulullah SAW berasal dari keluarga yang memiliki tradisi pelayanan dan kepedulian sosial.
P3: Pada pertemuan 3, cinta kepada Allah SWT ditanamkan melalui pemahaman bahwa Islam datang untuk membersihkan tauhid dari penyembahan berhala dan mengajak manusia kembali kepada keimanan yang benar. Cinta kepada Rasulullah SAW ditanamkan melalui penghargaan terhadap perjuangan beliau berdakwah di tengah masyarakat Jahiliyah yang keras dan penuh tantangan. Peserta didik diajak meneladani Rasulullah SAW dalam mempertahankan kebenaran, mengajak kepada kebaikan, dan menyempurnakan akhlak mulia.
32. PENDEKATAN (REFLECTIVE LEARNING)
P1: Pendekatan reflective learning pada pertemuan 1 diterapkan dengan memberikan ruang bagi peserta didik untuk merenungkan dan merefleksikan apa yang telah dipelajari. Setelah mempelajari kondisi alam dan sistem kabilah, peserta didik diajak untuk menuliskan dalam jurnal refleksi tentang tiga hal yang dipelajari dan nilai apa yang dapat diambil untuk kehidupan sehari-hari. Guru juga memberikan pertanyaan reflektif seperti "Apa yang akan kamu lakukan jika hidup di zaman Jahiliyah?" untuk mendorong siswa berpikir lebih dalam.
P2: Pendekatan reflective learning pada pertemuan 2 diterapkan dengan meminta peserta didik membuat kesimpulan tentang jalur perdagangan dan sistem kepemimpinan serta merefleksikan relevansinya dengan kehidupan modern. Pertanyaan reflektif seperti "Nilai kepemimpinan apa yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari?" dan "Apa hikmah dari kemajuan perdagangan masyarakat Arab?" digunakan untuk mendorong refleksi mendalam.
P3: Pendekatan reflective learning pada pertemuan 3 diterapkan dengan meminta peserta didik membuat refleksi tentang pelajaran paling berharga dari seluruh pembelajaran bab 1. Pertanyaan reflektif seperti "Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah di lingkungan kita?" dan "Dari semua materi yang telah dipelajari dalam tiga pertemuan ini, apa pelajaran paling berharga yang kamu dapatkan?" mendorong siswa untuk menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.
33. STRATEGI (REFLECTIVE LEARNING)
P1: Strategi reflective learning pada pertemuan 1 dilaksanakan melalui beberapa langkah. Pertama, guru memberikan waktu jeda setelah menyampaikan materi untuk siswa merenungkan informasi yang diterima. Kedua, siswa diberikan jurnal refleksi untuk menuliskan pemahaman, pertanyaan, dan perasaan mereka tentang materi. Ketiga, guru memfasilitasi diskusi refleksi di akhir pembelajaran tentang nilai-nilai yang dapat diambil. Keempat, siswa diajak menghubungkan materi dengan pengalaman pribadi tentang fanatisme kelompok.
P2: Strategi reflective learning pada pertemuan 2 dilaksanakan melalui pemberian tugas membuat peta konsep dan kesimpulan yang mendorong siswa untuk merefleksikan pemahaman mereka. Guru juga memberikan pertanyaan reflektif di akhir pembelajaran dan memfasilitasi diskusi tentang nilai-nilai kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa didorong untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pemahaman mereka.
P3: Strategi reflective learning pada pertemuan 3 dilaksanakan melalui pemberian tugas membuat rangkuman seluruh bab 1 dan jurnal refleksi tentang pelajaran paling berharga. Guru memfasilitasi diskusi refleksi tentang relevansi materi dengan kehidupan modern dan cara mencegah kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah. Siswa didorong untuk mengevaluasi keseluruhan proses pembelajaran dan mengidentifikasi strategi belajar yang efektif.
34. PENDEKATAN (MULTIKULTURAL)
P1: Pendekatan multikultural pada pertemuan 1 diterapkan dengan memperkenalkan keberagaman suku dan budaya di Jazirah Arab melalui sistem kabilah. Peserta didik diajak memahami bahwa masyarakat Arab terdiri dari berbagai kabilah dengan karakter dan tradisi yang berbeda-beda. Guru menghubungkan keberagaman ini dengan keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia. Pendekatan ini menumbuhkan sikap menghargai perbedaan dan toleransi antarbudaya.
P2: Pendekatan multikultural pada pertemuan 2 diterapkan dengan menunjukkan bagaimana perdagangan menghubungkan berbagai peradaban dan budaya (Romawi, Persia, Habasyah, Yaman, Syam). Peserta didik diajak memahami bahwa interaksi antarbudaya melalui perdagangan membawa pengaruh positif bagi perkembangan peradaban. Guru menghubungkan dengan perdagangan global saat ini yang juga mempertemukan berbagai budaya di dunia.
P3: Pendekatan multikultural pada pertemuan 3 diterapkan dengan memperkenalkan keberagaman kepercayaan di Jazirah Arab (penyembah berhala, Yahudi, Nasrani, Hanif). Peserta didik diajak memahami bahwa masyarakat Arab pra-Islam memiliki keragaman keyakinan dan cara hidup. Guru menghubungkan dengan keberagaman agama di Indonesia dan pentingnya sikap toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama.
35. STRATEGI (MULTIKULTURAL)
P1: Strategi multikultural pada pertemuan 1 dilaksanakan melalui beberapa langkah. Pertama, guru menyajikan informasi tentang berbagai kabilah di Jazirah Arab dan karakteristiknya. Kedua, siswa berdiskusi tentang kelebihan dan kekurangan dari keberagaman suku di Arab dan di Indonesia. Ketiga, siswa diajak membandingkan sistem kabilah Arab dengan sistem kekerabatan di Indonesia (suku Jawa, Sunda, Batak, dll). Keempat, guru menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan di atas perbedaan.
P2: Strategi multikultural pada pertemuan 2 dilaksanakan melalui pengenalan berbagai budaya yang berinteraksi melalui jalur perdagangan. Guru menunjukkan peta perdagangan yang menghubungkan berbagai peradaban. Siswa berdiskusi tentang pengaruh budaya asing terhadap masyarakat Arab dan sebaliknya. Guru menghubungkan dengan pengaruh budaya global di era modern dan pentingnya mempertahankan identitas budaya.
P3: Strategi multikultural pada pertemuan 3 dilaksanakan melalui pengenalan keberagaman kepercayaan di Jazirah Arab. Guru menyajikan informasi tentang penyembah berhala, Yahudi, Nasrani, dan Hanif. Siswa berdiskusi tentang toleransi yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap pemeluk agama lain. Guru menekankan pentingnya sikap toleran dan menghargai perbedaan dalam bingkai persatuan Indonesia.
36. PENDEKATAN (PARTISIPATIF DAN KOLABORATIF)
P1: Pendekatan partisipatif dan kolaboratif pada pertemuan 1 diterapkan dengan melibatkan seluruh peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru tidak mendominasi kelas, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, berpendapat, dan berdiskusi. Metode diskusi kelompok, presentasi, dan tanya jawab menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran yang aktif. Kolaborasi terlihat dalam kerja kelompok yang saling membantu dan saling belajar.
P2: Pendekatan partisipatif dan kolaboratif pada pertemuan 2 diterapkan melalui diskusi kelompok yang melibatkan semua siswa. Setiap kelompok memiliki tugas spesifik yang harus diselesaikan bersama. Guru menjadi fasilitator yang membimbing dan mendorong partisipasi aktif semua siswa. Kolaborasi terlihat dalam kerja sama untuk memahami materi, membuat kesimpulan, dan mempresentasikan hasil diskusi.
P3: Pendekatan partisipatif dan kolaboratif pada pertemuan 3 diterapkan melalui diskusi kelompok dan refleksi bersama. Semua siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan berbagi pengalaman. Kolaborasi terlihat dalam kerja kelompok untuk menganalisis budaya Jahiliyah dan menemukan hikmah. Guru menjadi fasilitator yang mendorong partisipasi aktif dan menghargai setiap kontribusi siswa.
37. STRATEGI (PARTISIPATIF DAN KOLABORATIF)
P1: Strategi partisipatif dan kolaboratif pada pertemuan 1 dilaksanakan melalui pembentukan kelompok belajar yang heterogen, pemberian tugas kelompok yang jelas dan terstruktur, pengaturan waktu diskusi yang efektif, presentasi hasil diskusi oleh perwakilan kelompok, dan tanya jawab antar kelompok. Guru memantau jalannya diskusi dan memberikan bimbingan saat diperlukan. Setiap anggota kelompok diberi tanggung jawab untuk berkontribusi.
P2: Strategi partisipatif dan kolaboratif pada pertemuan 2 dilaksanakan melalui pembentukan kelompok dengan pembagian tugas yang jelas, diskusi kelompok yang terstruktur dengan pedoman (LKPD), presentasi hasil diskusi, dan sesi tanya jawab yang melibatkan semua kelompok. Guru memfasilitasi jalannya diskusi dan memastikan semua siswa berpartisipasi aktif.
P3: Strategi partisipatif dan kolaboratif pada pertemuan 3 dilaksanakan melalui diskusi kelompok dengan topik spesifik, kerja sama dalam menganalisis budaya dan hikmah Jahiliyah, presentasi hasil diskusi, dan refleksi bersama. Guru mendorong siswa untuk saling membantu dan belajar dari satu sama lain. Setiap siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasannya.
38. PENDEKATAN (HUMANISTIK DAN PENDIDIKAN KARAKTER)
P1: Pendekatan humanistik dan pendidikan karakter pada pertemuan 1 diterapkan dengan menempatkan peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi, perasaan, dan pengalaman. Guru memperlakukan siswa dengan hormat, mendengarkan pendapat mereka, dan menghargai perbedaan. Pendidikan karakter ditanamkan melalui nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, dan kebenaran yang diajarkan melalui sistem kabilah. Siswa diajak merenungkan bahwa mereka adalah manusia yang harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
P2: Pendekatan humanistik dan pendidikan karakter pada pertemuan 2 diterapkan dengan mengembangkan karakter kejujuran, amanah, dan tanggung jawab melalui pembelajaran tentang perdagangan dan kepemimpinan. Guru menjadi teladan dalam bersikap adil dan menghargai siswa. Siswa diajak mengembangkan karakter kepemimpinan yang melayani, bukan yang otoriter.
P3: Pendekatan humanistik dan pendidikan karakter pada pertemuan 3 diterapkan dengan mengembangkan karakter empati, kepedulian, dan keberanian membela kebenaran melalui pembelajaran tentang budaya Jahiliyah. Guru menanamkan nilai-nilai kemanusiaan seperti menghargai hak hidup, menolak kekerasan, dan menjunjung keadilan. Siswa diajak menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan berani melawan ketidakadilan.
39. STRATEGI (HUMANISTIK DAN PENDIDIKAN KARAKTER)
P1: Strategi humanistik dan pendidikan karakter pada pertemuan 1 dilaksanakan melalui pemberian contoh-contoh konkret tentang bahaya fanatisme dan pentingnya kebenaran, diskusi tentang nilai-nilai positif yang dapat diambil dari sistem kabilah, penekanan pada nilai-nilai karakter seperti keberanian, kejujuran, dan keadilan, serta pemberian kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan sikap mereka sendiri terhadap fanatisme kelompok.
P2: Strategi humanistik dan pendidikan karakter pada pertemuan 2 dilaksanakan melalui pembahasan tentang pentingnya kejujuran dalam perdagangan (menghindari riba), amanah dalam kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial (Siqayah dan Rifadah). Guru memberikan contoh-contoh karakter positif dari tokoh-tokoh Quraisy dan mengajak siswa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
P3: Strategi humanistik dan pendidikan karakter pada pertemuan 3 dilaksanakan melalui pembahasan tentang nilai-nilai positif yang dijunjung masyarakat Jahiliyah (memuliakan tamu, menepati janji, keberanian) dan keburukan yang dihapus Islam (penguburan anak perempuan, perbudakan). Guru menanamkan karakter empati, kepedulian, dan keberanian membela kebenaran. Siswa diajak mengidentifikasi dan menolak nilai-nilai Jahiliyah di era modern.
40. PENDEKATAN (INTEGRATIF)
P1: Pendekatan integratif pada pertemuan 1 diterapkan dengan mengintegrasikan berbagai aspek pembelajaran dalam satu kesatuan yang utuh. Guru menghubungkan materi kondisi alam dan sistem kabilah dengan aspek geografi, sejarah, sosiologi, dan pendidikan karakter. Pembelajaran tidak hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga membentuk sikap dan keterampilan. Guru juga mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan materi yang dipelajari.
P2: Pendekatan integratif pada pertemuan 2 diterapkan dengan menghubungkan materi perdagangan dan kepemimpinan dengan aspek ekonomi, politik, sejarah, dan pendidikan karakter. Guru mengintegrasikan ayat-ayat Al-Qur'an (QS. Quraisy) dengan materi pembelajaran. Keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif juga diintegrasikan dalam proses pembelajaran.
P3: Pendekatan integratif pada pertemuan 3 diterapkan dengan menghubungkan materi kepercayaan, budaya, dan hikmah dengan aspek teologi, sosiologi, antropologi, dan pendidikan karakter. Guru mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial dalam pembelajaran. Siswa diajak melihat keterkaitan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam perspektif Islam.
41. STRATEGI (INTEGRATIF)
P1: Strategi integratif pada pertemuan 1 dilaksanakan melalui penyusunan materi yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu, penggunaan contoh-contoh yang relevan dengan kehidupan siswa, pengintegrasian nilai-nilai keislaman dalam setiap topik, dan pemberian tugas yang menuntut siswa untuk menghubungkan berbagai aspek pengetahuan.
P2: Strategi integratif pada pertemuan 2 dilaksanakan melalui penggunaan Al-Qur'an sebagai sumber belajar (QS. Quraisy), pengintegrasian aspek ekonomi, sejarah, dan politik dalam satu topik, serta pemberian tugas yang menuntut siswa untuk menganalisis keterkaitan antara perdagangan dan kepemimpinan.
P3: Strategi integratif pada pertemuan 3 dilaksanakan melalui pengintegrasian aspek teologi, budaya, dan moral dalam satu topik, penggunaan Al-Qur'an dan hadits sebagai rujukan, serta pemberian tugas yang menuntut siswa untuk menghubungkan masa Jahiliyah dengan realitas modern dan nilai-nilai Islam.
42. PENDEKATAN (KETELADANAN)
P1: Pendekatan keteladanan pada pertemuan 1 diterapkan dengan menjadikan guru sebagai teladan dalam bersikap dan berperilaku. Guru menunjukkan sikap toleran, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak fanatik. Guru juga meneladankan sikap kritis terhadap praktik yang salah seperti 'ashabiyah yang merugikan. Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam mengutamakan kebenaran di atas fanatisme juga menjadi contoh utama bagi siswa.
P2: Pendekatan keteladanan pada pertemuan 2 diterapkan dengan meneladankan sikap jujur, amanah, dan tanggung jawab dalam setiap tindakan guru. Guru juga menunjukkan keteladanan dalam mengelola waktu dan menjalankan tugas dengan baik. Keteladanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam berdagang dan memimpin dengan jujur dan amanah menjadi contoh bagi siswa.
P3: Pendekatan keteladanan pada pertemuan 3 diterapkan dengan meneladankan sikap toleransi, empati, dan keberanian membela kebenaran. Guru juga menunjukkan keteladanan dalam bersikap adil dan menghargai perbedaan. Keteladanan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam berdakwah dengan bijaksana dan penuh kesabaran menjadi teladan utama bagi siswa.
43. STRATEGI (KETELADANAN)
P1: Strategi keteladanan pada pertemuan 1 dilaksanakan melalui beberapa langkah. Guru menunjukkan sikap terbuka dan menghargai pertanyaan siswa, memberikan contoh konkret tentang bahaya fanatisme dalam kehidupan nyata, menceritakan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi masyarakat Jahiliyah, serta memberikan penguatan positif ketika siswa menunjukkan sikap yang baik seperti toleran dan kritis.
P2: Strategi keteladanan pada pertemuan 2 dilaksanakan melalui guru yang menunjukkan sikap jujur dan amanah dalam menjalankan tugas, memberikan contoh tokoh-tokoh Quraisy yang memiliki integritas dalam berdagang dan memimpin, serta memberikan penguatan positif ketika siswa menunjukkan sikap jujur dan bertanggung jawab.
P3: Strategi keteladanan pada pertemuan 3 dilaksanakan melalui guru yang menunjukkan sikap toleran dan menghargai perbedaan, memberikan contoh keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi masyarakat yang keras, menceritakan keteladanan para sahabat seperti Bilal bin Rabah yang teguh mempertahankan keimanan, serta memberikan penguatan positif ketika siswa menunjukkan sikap empati dan kepedulian.
44. INDIKATOR KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN (IKTP)
P1: Indikator ketercapaian tujuan pembelajaran pertemuan 1 adalah sebagai berikut.
a. Peserta didik mampu menunjukkan letak Jazirah Arab dan batas-batas wilayahnya pada peta dengan tepat.
b. Peserta didik mampu menjelaskan tiga gurun utama di Jazirah Arab dan karakteristiknya.
c. Peserta didik mampu mendeskripsikan kondisi iklim dan sumber air di Jazirah Arab.
d. Peserta didik mampu menyebutkan lima kota penting di Jazirah Arab dan karakteristik masing-masing.
e. Peserta didik mampu menjelaskan pengertian kabilah dan dasar keturunannya.
f. Peserta didik mampu menjelaskan prinsip 'ashabiyah dan dampaknya terhadap kehidupan sosial.
g. Peserta didik mampu menjelaskan tradisi jiwar dan ts'ar dalam sistem kabilah.
h. Peserta didik mampu menyebutkan lima kabilah terkenal di Jazirah Arab.
i. Peserta didik mampu menganalisis dampak positif dan negatif sistem kabilah.
j. Peserta didik mampu menunjukkan sikap kritis terhadap praktik fanatisme yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
P2: Indikator ketercapaian tujuan pembelajaran pertemuan 2 adalah sebagai berikut.
a. Peserta didik mampu menjelaskan mata pencaharian utama masyarakat Arab pra-Islam.
b. Peserta didik mampu mendeskripsikan jalur perdagangan Makkah dan komoditas yang diperdagangkan.
c. Peserta didik mampu menyebutkan tiga pasar besar di Jazirah Arab dan fungsinya.
d. Peserta didik mampu menjelaskan sistem kepemimpinan dan lembaga-lembaga di Makkah.
e. Peserta didik mampu menjelaskan fungsi Dar an-Nadwah, Hijabah, Siqayah, dan Rifadah.
f. Peserta didik mampu menjelaskan fungsi Liwa' dan Qiyadah dalam sistem kepemimpinan Makkah.
g. Peserta didik mampu menganalisis fungsi masing-masing lembaga dalam mengatur kehidupan masyarakat.
h. Peserta didik mampu menunjukkan sikap apresiatif terhadap sistem musyawarah.
P3: Indikator ketercapaian tujuan pembelajaran pertemuan 3 adalah sebagai berikut.
a. Peserta didik mampu menjelaskan sistem kepercayaan masyarakat Arab pra-Islam.
b. Peserta didik mampu menyebutkan empat berhala utama dan kabilah pemujanya.
c. Peserta didik mampu menyebutkan empat tokoh Hanif dan peran mereka.
d. Peserta didik mampu menjelaskan keberadaan agama Yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab.
e. Peserta didik mampu mendeskripsikan ciri-ciri puisi Jahiliyah dan temanya.
f. Peserta didik mampu menyebutkan tiga penyair terkenal masa Jahiliyah.
g. Peserta didik mampu menyebutkan empat nilai positif budaya Jahiliyah.
h. Peserta didik mampu menjelaskan praktik wa'd dan bahayanya.
i. Peserta didik mampu menjelaskan empat hikmah mempelajari masa Jahiliyah.
j. Peserta didik mampu menunjukkan sikap waspada terhadap kebangkitan nilai-nilai Jahiliyah di era modern.
45. INTISAB (Allah Ghayatuna, Al-Ikhlash Mabda'una, Al-Ishlah Sabiluna, Al-Mahabbah Syi'aruna)
(Pilihan: Al-Mahabbah Syi'aruna - Cinta adalah Slogan/Motto Kita)
Deskripsi:
P1: Penerapan prinsip "Al-Mahabbah Syi'aruna" pada pertemuan 1 diwujudkan melalui penanaman cinta kepada Allah, Rasul, ilmu, sesama, dan lingkungan. Cinta kepada Allah ditanamkan melalui pengenalan kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya berupa alam Jazirah Arab yang unik. Cinta kepada Rasulullah SAW ditanamkan melalui pemahaman bahwa beliau lahir dan dibesarkan di tengah masyarakat yang keras namun tetap menjadi teladan terbaik. Cinta kepada ilmu ditanamkan melalui semangat menggali informasi tentang sejarah dan geografi. Cinta kepada sesama ditanamkan melalui pembelajaran tentang bahaya fanatisme dan pentingnya persaudaraan. Cinta kepada lingkungan ditanamkan melalui apresiasi terhadap alam dan kesadaran menjaga sumber daya alam seperti air. Guru dan siswa saling menyayangi dalam proses pembelajaran yang hangat dan penuh keakraban.
P2: Penerapan prinsip "Al-Mahabbah Syi'aruna" pada pertemuan 2 diwujudkan melalui penanaman cinta kepada Allah yang memberikan rezeki melalui perdagangan sebagaimana disebutkan dalam QS. Quraisy. Cinta kepada Rasulullah SAW ditanamkan melalui kebanggaan bahwa kakek beliau adalah pemegang jabatan Siqayah dan Rifadah yang mulia. Cinta kepada ilmu ditanamkan melalui semangat mempelajari sistem ekonomi dan kepemimpinan. Cinta kepada sesama ditanamkan melalui pembelajaran tentang tanggung jawab sosial dan pelayanan kepada jemaah haji. Cinta kepada lingkungan ditanamkan melalui kesadaran bahwa perdagangan yang jujur dan adil menjaga keseimbangan ekonomi. Suasana pembelajaran yang penuh cinta tercipta melalui interaksi yang hangat dan saling menghargai antara guru dan siswa.
P3: Penerapan prinsip "Al-Mahabbah Syi'aruna" pada pertemuan 3 diwujudkan melalui penanaman cinta kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang wajib disembah dengan ikhlas, bukan berhala. Cinta kepada Rasulullah SAW ditanamkan melalui penghargaan terhadap perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam di tengah masyarakat Jahiliyah. Cinta kepada ilmu ditanamkan melalui semangat mempelajari sejarah dan mengambil hikmah. Cinta kepada sesama ditanamkan melalui penolakan terhadap praktik keji seperti penguburan anak perempuan dan perbudakan, serta pengembangan empati dan kepedulian. Cinta kepada lingkungan ditanamkan melalui apresiasi terhadap nilai-nilai positif budaya Jahiliyah yang selaras dengan ajaran Islam. Suasana pembelajaran yang dipenuhi cinta tercipta melalui diskusi yang reflektif, saling menghargai, dan penuh kehangatan antar guru dan siswa. Prinsip "Al-Mahabbah Syi'aruna" menjadi fondasi bahwa setiap pembelajaran dilandasi oleh cinta kepada Allah, Rasul, ilmu, sesama, dan lingkungan.
46. ISHLAHUTSAMANIYYAH (Perbaikan Aqidah, Ibadah, Tarbiyah, Keluarga, Adat, Umat, Ekonomi, Masyarakat)
(Pilihan: Perbaikan Aqidah - إصلاح العقيدة)
Deskripsi:
P1: Penerapan perbaikan aqidah pada pertemuan 1 dilakukan melalui pemahaman bahwa Allah SWT adalah Pencipta alam semesta dengan segala hukum dan ketentuannya. Kondisi geografis Jazirah Arab yang keras mengajarkan bahwa tidak ada kekuatan selain Allah yang mampu mengubah nasib manusia. Melalui pembelajaran tentang sistem kabilah, peserta didik diajak memahami bahwa fanatisme buta ('ashabiyah) bertentangan dengan aqidah yang benar karena menjadikan kepentingan kelompok di atas kebenaran. Prinsip "belalah saudaramu meskipun ia zalim" adalah bentuk kesyirikan sosial karena mendewakan kelompok. Islam datang untuk meluruskan aqidah dengan prinsip tauhid yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan ditaati, serta menjadikan kebenaran dan keadilan sebagai landasan utama dalam bersosial.
P2: Penerapan perbaikan aqidah pada pertemuan 2 dilakukan melalui pemahaman bahwa rezeki dan keberhasilan dalam perdagangan adalah karunia Allah, bukan semata-mata hasil usaha manusia. QS. Quraisy mengajarkan bahwa Allah-lah yang memberikan keamanan dan kemakmuran kepada kaum Quraisy sehingga mereka dapat berdagang dengan tenang. Sistem kepemimpinan yang dijalankan di Makkah harus didasarkan pada tauhid dan keadilan, bukan kesombongan atau penindasan. Peserta didik diajak menyadari bahwa kepemimpinan yang baik adalah amanah dari Allah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Perbaikan aqidah juga tercermin dalam penolakan terhadap riba sebagai bentuk ketidakadilan dan ketidakpercayaan kepada rezeki Allah.
P3: Penerapan perbaikan aqidah pada pertemuan 3 dilakukan melalui pembelajaran tentang penyembahan berhala yang merupakan bentuk kemusyrikan terbesar. Ka'bah yang seharusnya menjadi pusat tauhid telah dipenuhi tiga ratus enam puluh berhala, menunjukkan betapa rusaknya aqidah masyarakat Jahiliyah. Peserta didik diajak memahami bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar yang tidak diampuni Allah jika tidak bertobat. Keberadaan orang-orang Hanif yang tetap bertauhid di tengah masyarakat musyrik menjadi teladan bahwa fitrah manusia adalah bertauhid dan mencari kebenaran. Islam datang untuk memperbaiki aqidah dengan mengembalikan manusia kepada tauhid yang murni, mengajak mereka menyembah Allah semata dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi seperti kesyirikan dalam bentuk cinta berlebihan kepada dunia, hawa nafsu, atau kekuasaan.
47. DIMENSI KETAHANAN KELUARGA
(Pilihan: a. Dimensi Ketahanan Spiritual)
P1: Dimensi Ketahanan Spiritual (Tatanan Berkeluarga dalam Islam, Pribadi Tangguh Calon Pengantin, Ketaatan Beragama)
Tatanan Berkeluarga dalam Islam:
Pada pertemuan 1, pembelajaran tentang sistem kabilah dan kehidupan sosial masyarakat Arab pra-Islam dihubungkan dengan tatanan berkeluarga dalam Islam. Peserta didik diajak memahami bahwa Islam datang untuk memperbaiki tatanan sosial yang rusak akibat fanatisme kabilah dan menggantinya dengan tatanan keluarga yang dibangun di atas fondasi tauhid, kasih sayang, dan keadilan. Sistem kabilah yang mengutamakan solidaritas buta ('ashabiyah) diperbaiki oleh Islam menjadi ukhuwah Islamiyah yang berdasarkan iman dan takwa. Peserta didik belajar bahwa keluarga dalam Islam adalah institusi pertama yang membentuk karakter seseorang, sebagaimana Rasulullah SAW lahir dari keluarga Bani Hasyim yang mulia dan dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkan nilai-nilai luhur. Tatanan berkeluarga dalam Islam menekankan pentingnya peran ayah sebagai pemimpin yang adil, ibu sebagai pendidik utama, dan anak sebagai generasi penerus yang harus dididik dengan akhlak mulia.
Pribadi Tangguh Calon Pengantin:
Pada pertemuan 1, peserta didik diajak merefleksikan bahwa masyarakat Arab pra-Islam menghadapi kondisi alam yang keras dan kehidupan sosial yang penuh tantangan. Hal ini mengajarkan pentingnya membentuk pribadi yang tangguh sejak dini, termasuk bagi calon pengantin yang akan membangun rumah tangga. Kondisi geografis Jazirah Arab yang ekstrem membentuk masyarakat yang tangguh, ulet, dan mandiri. Nilai-nilai ini menjadi modal penting bagi calon pengantin dalam menghadapi berbagai tantangan rumah tangga. Pribadi tangguh calon pengantin juga tercermin dalam kemampuan menghadapi perbedaan latar belakang suku dan budaya, sebagaimana masyarakat Arab yang terdiri dari berbagai kabilah harus belajar hidup berdampingan. Islam mengajarkan bahwa calon pengantin harus memiliki kesiapan fisik, mental, spiritual, dan sosial untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Ketaatan Beragama:
Pada pertemuan 1, peserta didik diajak memahami bahwa ketaatan beragama menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga yang kuat. Masyarakat Arab pra-Islam yang menyembah berhala dan terjerumus dalam fanatisme menunjukkan betapa pentingnya ketaatan kepada Allah SWT dan ajaran-Nya. Sistem kabilah yang mengajarkan semboyan keliru "belalah saudaramu meskipun ia zalim" bertentangan dengan ketaatan beragama yang benar. Islam mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya harus di atas segalanya, termasuk di atas kepentingan keluarga atau kabilah. Peserta didik belajar bahwa keluarga yang taat beragama akan memiliki ketahanan spiritual yang kuat dalam menghadapi berbagai godaan dan tantangan hidup. Ketaatan beragama juga tercermin dalam kepatuhan terhadap ajaran Islam tentang hak dan kewajiban suami istri, pendidikan anak, serta pengelolaan rumah tangga yang sesuai dengan syariat.
P2: Dimensi Ketahanan Spiritual (Tatanan Berkeluarga dalam Islam, Pribadi Tangguh Calon Pengantin, Ketaatan Beragama)
Tatanan Berkeluarga dalam Islam:
Pada pertemuan 2, pembelajaran tentang sistem kepemimpinan dan perdagangan di Makkah dihubungkan dengan tatanan berkeluarga dalam Islam. Lembaga-lembaga kepemimpinan seperti Siqayah dan Rifadah yang dipegang oleh Bani Hasyim (keluarga Nabi) menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam dimulai dari keluarga. Rasulullah SAW berasal dari keluarga yang memiliki tradisi melayani jemaah haji, mengajarkan bahwa keluarga muslim harus memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Peserta didik diajak memahami bahwa tatanan berkeluarga dalam Islam menekankan pada pembagian peran yang adil, musyawarah dalam mengambil keputusan keluarga, serta tanggung jawab bersama dalam mendidik anak dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Keteladanan dari keluarga Nabi dan para sahabat menjadi pedoman dalam membangun tatanan keluarga yang Islami.
Pribadi Tangguh Calon Pengantin:
Pada pertemuan 2, peserta didik diajak memahami bahwa kesuksesan Quraisy dalam berdagang dan memimpin membutuhkan ketangguhan pribadi yang luar biasa. Para pedagang Quraisy harus menempuh perjalanan panjang melintasi gurun dan laut dengan segala risikonya. Hal ini mengajarkan calon pengantin untuk memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan rumah tangga, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun psikologis. Ketangguhan calon pengantin juga tercermin dalam kemampuan mengelola keuangan keluarga dengan bijak, menghindari riba, dan membangun kemandirian ekonomi sebagaimana dicontohkan oleh para pedagang Quraisy yang jujur dan amanah. Islam mengajarkan bahwa calon pengantin harus memiliki kesiapan mental untuk menjadi pemimpin dalam keluarga yang amanah dan bertanggung jawab.
Ketaatan Beragama:
Pada pertemuan 2, peserta didik diajak memahami bahwa ketaatan beragama menjadi landasan utama dalam bermuamalah dan berbisnis. QS. Quraisy mengajarkan bahwa kesuksesan perdagangan Quraisy adalah karunia Allah yang harus disyukuri dengan ketaatan. Sistem kepemimpinan yang dijalankan harus berdasarkan pada prinsip keadilan dan kebenaran, bukan kesombongan atau penindasan. Peserta didik belajar bahwa ketaatan beragama dalam keluarga tercermin dalam kepatuhan terhadap aturan syariat dalam bermuamalah, menghindari riba, dan menjalankan ibadah dengan istiqamah. Keluarga yang taat beragama akan memiliki ketahanan spiritual yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan sosial.
P3: Dimensi Ketahanan Spiritual (Tatanan Berkeluarga dalam Islam, Pribadi Tangguh Calon Pengantin, Ketaatan Beragama)
Tatanan Berkeluarga dalam Islam:
Pada pertemuan 3, pembelajaran tentang kepercayaan dan budaya Jahiliyah dihubungkan dengan tatanan berkeluarga dalam Islam. Masyarakat Arab pra-Islam yang menyembah berhala dan mengubur anak perempuan hidup-hidup menunjukkan kerusakan tatanan keluarga yang parah. Islam datang untuk memperbaiki tatanan keluarga dengan mengembalikan martabat perempuan, menghapus praktik keji wa'd, dan menjadikan keluarga sebagai tempat pendidikan akhlak dan iman. Peserta didik diajak memahami bahwa tatanan berkeluarga dalam Islam dibangun di atas prinsip tauhid, kasih sayang, dan keadilan. Suami istri saling melengkapi dan bekerja sama dalam mendidik anak-anak menjadi generasi yang bertakwa kepada Allah SWT. Keteladanan keluarga Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat menjadi contoh terbaik dalam membangun tatanan keluarga yang Islami.
Pribadi Tangguh Calon Pengantin:
Pada pertemuan 3, peserta didik diajak memahami bahwa orang-orang Hanif seperti Waraqah bin Naufal dan Zaid bin Amr adalah contoh pribadi yang tangguh dalam mempertahankan kebenaran di tengah masyarakat yang sesat. Mereka tidak takut berbeda dan tidak gentar menghadapi tekanan sosial. Hal ini mengajarkan calon pengantin untuk memiliki ketangguhan dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran dalam rumah tangga, tidak mudah terpengaruh oleh budaya negatif, dan berani menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat. Ketangguhan juga tercermin dalam kemampuan mengelola perbedaan dan konflik dalam rumah tangga dengan bijaksana. Islam mengajarkan bahwa calon pengantin harus memiliki kekuatan iman, ilmu, dan akhlak untuk membangun keluarga yang tangguh menghadapi berbagai cobaan.
Ketaatan Beragama:
Pada pertemuan 3, peserta didik diajak memahami bahwa ketaatan beragama adalah benteng utama dalam melindungi keluarga dari pengaruh budaya Jahiliyah yang merusak. Praktik penguburan anak perempuan, riba, perbudakan, khamr, dan judi adalah contoh budaya Jahiliyah yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah. Islam mengajarkan bahwa ketaatan beragama harus diimplementasikan dalam setiap aspek kehidupan keluarga, mulai dari ibadah, muamalah, hingga akhlak. Keluarga yang taat beragama akan memiliki ketahanan spiritual yang kuat, mampu menolak pengaruh negatif budaya Jahiliyah modern, dan menjadi benteng bagi generasi penerus. Peserta didik diajak untuk berkomitmen menjadi generasi yang taat beragama dan membangun keluarga yang sesuai dengan ajaran Islam, serta menjadi agen perubahan di masyarakat.